• Mama Debora Kase dari Desa Bosen memegang Bunga Turi Merah di kebun <br> Foto: Dok. Pribadi
    Mama Debora Kase dari Desa Bosen memegang Bunga Turi Merah di kebun
    Foto: Dok. Pribadi

Pangan lokal memiliki beberapa keunggulan, seperti lebih dekat dengan rumah tangga, adaptasi terhadap iklim tinggi dan mudah dibudidayakan, bahkan beberapa tanaman tidak membutuhkan perawatan khusus atau pemberian pupuk pabrik untuk dapat tumbuh dengan baik. Hal ini membuat pangan lokal dapat menjadi makanan pokok sehat yang tersedia dekat dengan rumah.

Keinginan saya untuk belajar tentang pangan lokal bertambah kuat sejak kegiatan Visit and writing. Sebuah kegiatan yang dirancang dan dilaksanakan oleh Perkumpulan PIKUL  untuk mendorong anak muda tertarik dan ingin tahu tentang pangan lokal. Kami berkunjung ke beberapa desa dan melihat bagaimana pandangan masyarakat desa sendiri tentang pangan lokal. Ketika berkunjung di Desa Uitiuh Tuan, pertama kalinya saya mengenal tanaman sorgum atau masyarakat Kupang mengenalnya dengan sebutan ‘jagung rote’. Bentuknya yang menarik dan saat melihatnya membuat rasa ingin tahu tentang tanaman ini semakin tinggi. 

Setelah kegiatan itu kami turut mulai mengkampanyekan tanaman ini sebagai salah satu pengganti beras  melalui sosial media hingga membawa sorgum ke Kota Kupang untuk dilihat secara langsung dan dikonsumsi masyarakat di Kota Kupang. 

Pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa dalam mengkampanyekan pangan lokal, tidak cukup hanya tanamannya. Siapa yang menanam dan bagaimana hasil olahannya menjadi penting. Karena bagi kebanyakan orang,  tampilan visual dan cerita yang kuat akan membuat mereka penasaran dan semakin ingin tahu tentang suatu pangan lokal.

Sorgum Merah pertama kali yang saya lihat di kebun milik Pak Ferdi Ati. Klub Dalen Mesa, Desa Uitiuhana, Kecamatan Semau selatan
Sorgum Merah pertama kali yang saya lihat di kebun milik Pak Ferdi Ati. Klub Dalen Mesa, Desa Uitiuhana, Kecamatan Semau Selatan
Foto: Dok. Pribadi


Pada tahun 2018, saya mendapat kesempatan  untuk belajar di New Zealand melalui  Program INSPIRASI (Indonesian Young Leaders programme) yang ditujukan untuk pemimpin muda dari Indonesia Timur. Program ini dikelola oleh UnionAID bekerja sama dengan Yayasan BaKTI, Universitas Teknologi Auckland (AUT), didukung oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga RI dan didanai oleh New Zealand Ministry of Foreign Affairs and Trade (MFAT). Melalui program ini saya banyak belajar tentang pembangunan berkelanjutan, dimana salah satunya adalah bagaimana melihat peluang pangan lokal sebagai peluang pembangunan berkelanjutan yang memengaruhi beberapa tujuan dari United Nations SDG's 2018  seperti  Zero Hunger, Good health and wellbeing dan Climate action. 

Melalui program ini, saya juga mendapat kesempatan untuk berlatih Bahasa Inggris sehingga pada kunjungan ke komunitas-komunitas yang mendukung isu pangan lokal di sana dapat berjalan dengan baik. Saya mendapat kesempatan secara pribadi untuk berkunjung ke Papatuanuku Kokiri Marae, sebuah komunitas yang melestarikan tanaman lokal di lahan mereka. Tujuan komunitas ini adalah untuk kesejahteraan komunitas di sekitar mereka melalui pangan yang mereka tanam. Selain itu, saya juga berkesempatan mengikuti workshop yang dilaksanakan oleh Heart Foundation. Saya belajar tentang makanan sehat dan bagaimana menghitung kalori dalam setiap produk makanan yang dijual di swalayan atau toko-toko. 

Lebih lanjut saya berkesempatan untuk bertemu Joseph yang mendedikasikan dirinya untuk mengajarkan orang-orang yang memiliki masalah berat badan, kolesterol dan diabetes melalui kelas memasak. Beliau mengatakan bahwa makanan lokal yang diolah harus menjadi makanan yang tidak hanya sehat, namun dari segi rasa haruslah layak atau enak, sehingga mendorong orang lain untuk mengkonsumsinya secara teratur. 

Pengetahuan tentang pentingnya pangan lokal terus berlanjut ketika saya mendapat kesempatan untuk menghadiri acara keluarga dari orang tua asuh saya, Will Illohia dan Mesepa Edwards. Mereka memberi saya pengalaman untuk mengkonsumsi pangan lokal yang berasal dari daerah mereka. Ada hal yang sama, bahwa mereka tidak mengkonsumsi beras ataupun roti. Umbi-umbian dan pisang menjadi pangan karbohidrat utama mereka. Saya kemudian berpikir, jika mereka melihat tanaman itu sebagai pangan pokok, maka seharusnya di daerah saya, Timor, juga dapat melakukan hal yang sama.

Menjelaskan menu pangan lokal kepada anak-anak siswa-siswi yang ingin mencicipi pangan lokal. Foto: Dok. SkolMus
Menjelaskan menu pangan lokal kepada anak-anak siswa-siswi yang ingin mencicipi pangan lokal.
Foto: Dok. SkolMus


Selain itu saya bersama teman-teman INSPIRASI yang lain ikut memasak makanan tradisional suku Maori bersama komunitas Te Araroa. Mereka memiliki cara masak khusus, yaitu Hangi. Hangi merupakan sajian tradisional Suku Māori yang dimasak dengan panas bumi di bawah tanah. Hangi mengalami beberapa modifikasi karena kendala daerah dengan panas bumi yang terbatas. Beberapa komunitas memasak dengan membuat lubang yang cukup besar, meletakkan makanan, lalu menutupnya dan kemudian menyalakan api diatas lubang yang sudah ditutupi. Sedangkan komunitas lain menggunakan oven. Namun jenis makanan hampir sama. Umbi-umbian, sayuran dan daging.

Belajar dari pemateri berpengalaman, kunjungan ke komunitas-komunitas di New Zealand  dan  mendapat dukungan dana dari MFAT New Zealand maka saya memulai proyek “People, Land and Food”. Sebuah proyek yang salah satunya adalah membuat sebuah buku resep berbasis pangan lokal di beberapa desa yang menjadi dampingan organisasi saya bekerja, Perkumpulan PIKUL. 

Perjalanan mengumpulkan resep-resep lokal dari perempuan-perempuan di empat desa di Pulau Timor membuat saya melihat bagaimana mereka memanfaatkan apa yang tumbuh di lahan dan apa yang ditumbuhkan alam bagi diri mereka dan keluarga. Desa-desa yang saya kunjungi adalah Desa Oh Aem 2, Kecamatan Amfoang Selatan, Desa Bosen dan Taiftob, Kecamatan Mollo Utara, Timor Tengah Selatan dan Desa Halik Laran, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. Dari ke empat desa ini terkumpul 21 resep dengan cara mengolah sama untuk beberapa bahan dan berbeda untuk bahan lainnya. Pangan lokal ini di olah dengan cara sederhana hingga sulit, namun merupakan sebuah tradisi yang diteruskan secara turun temurun. 

Dalam proyek ini bukan hanya resep yang saya kumpulkan, tapi ada arsip visual untuk makanan dan  perempuan yang menanamnya. Bagi saya hal ini sangat penting, karena kekuatan dari arsip visual dapat menjangkau mata dan turun ke hati sehingga menjadi suatu media kampanye yang kuat. Selain itu, informasi dan pengetahuan dapat disebarkan dengan mudah dari masa ke masa dan dapat menjadi pembanding untuk riset lainnya yang membutuhkan arsip ini. 

Pada tanggal 3 Desember 2019, bekerjasama dengan komunitas SkolMus dan 3 orang pegiat pangan  lokal yaitu Nona Heo, Noldy Franklin dan Asty Banoet untuk membuat inovasi resep berbahan dasar pangan lokal, saya membuat sebuah acara bernama  Bapalok : Baicip pangan lokal. Acara ini mengundang masyarakat umum untuk mencicipi makanan berbahan dasar pangan lokal dan memberi tanggapan. Sekitar 50 orang hadir, mulai dari siswa-siswi, mahasiswa hingga pekerja. SkolMus berpartisipasi dari desain poster publikasi, video publikasi, dalam dokumentasi kegiatan dan foto produk.

Setiap proses yang saya lalui, mulai dari setiap kesempatan turun ke desa dan kegiatan yang saya lakukan, membuat saya yakin bahwa perempuan mengambil peran yang amat penting dalam menjaga kelestarian pangan lokal di lahan maupun di meja makan. Selain itu, saya menyadari, sebagai perempuan, saya mampu melakukan sesuatu. Saya mungkin tidak menanam, saya hanya makan. Namun saya dapat menyebarkan semangat dan melestarikan pangan lokal dengan cara saya sendiri.  Sayapun percaya dengan mengkonsumsi pangan lokal kita dapat membantu sebuah budaya untuk tetap ada. Let’s eat local food and support your roots.

Submission Agreement

Terimakasih atas  ketertarikan Anda untuk mengirimkan artikel ke BaKTINews. Dengan menyetujui pernyataan ini, Anda memberikan izin kepada BaKTINews untuk mengedit dan mempublikasikan artikel Anda di situs web dan situs afiliasinya, dan dalam bentuk publikasi lainnya.
Redaksi BaKTINews tidak memberikan imbalan kepada penulis untuk setiap artikel yang dimuat.  Redaksi akan mempromosikan artikel Anda melalui situs kami dan saluran media sosial kami.
Dengan mengirimkan artikel Anda ke BaKTINews dan menandatangani kesepakatan ini, Anda menegaskan bahwa artikel Anda adalah asli hasil karya Anda, bahwa Anda memiliki hak cipta atas artikel ini, bahwa tidak ada orang lain yang memiliki hak untuk ini, dan bahwa konten Artikel Anda tidak mencemarkan nama baik atau melanggar hak, hak cipta, merek dagang, privasi, atau reputasi pihak ketiga mana pun.

Anda menegaskan bahwa Anda setidaknya berusia 18 tahun dan kemampuan untuk masuk ke dalam kesepakatan ini, atau bahwa Anda adalah orang tua atau wali sah dari anak di bawah umur yang menyerahkan artikel.
 
Satu file saja.
batasnya 32 MB.
Jenis yang diizinkan: txt, rtf, pdf, doc, docx, odt, ppt, pptx, odp, xls, xlsx, ods.