• Meski awalnya ditentang warga, Perpustakaan Hatukau akhirnya dapat dimanfaatkan menjadi Rumah Isolasi Mandiri bagi  Perempuan Pelaku Perjalanan. berkat pendekatan dan sosialisasi yang baik kepada warga <br> Foto : Dok. Yayasan Arika Mahina
    Meski awalnya ditentang warga, Perpustakaan Hatukau akhirnya dapat dimanfaatkan menjadi Rumah Isolasi Mandiri bagi Perempuan Pelaku Perjalanan. berkat pendekatan dan sosialisasi yang baik kepada warga
    Foto : Dok. Yayasan Arika Mahina

Pandemi COVID-19 yang disebabkan oleh virus SARS CoV-2 mengubah kehidupan sosial masyarakat di seluruh dunia. Masyarakat diminta untuk menjaga jarak (physical distancing), melakukan pembatasan sosial (social distancing), bekerja di rumah (work from home), hingga rumah-rumah ibadah pun harus ditutup sementara untuk memutus rantai penyebaran virus.

Di beberapa negara harus dilakukan penutupan wilayah (lockdown), untuk menghentikan virus yang menginfeksi berbagai ras manusia, bangsa, dan tanpa mengenal batas wilayah. Virus bergerak mengikuti perpindahan manusia, dan dengan cepat menyebar karena kerumunan atau kontak antar manusia.  Penyebaran COVID-19 juga telah menyebar di seluruh Indonesia, termasuk di Kota Ambon. Karena itu, pemerintah pusat, provinsi, kota/kabupaten sampai desa/negeri dan kelurahan, demikian juga di Provinsi Maluku dan Kota Ambon terus aktif melakukan upaya pencegahan dan penanganan untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19 melalui mekanisme dan penerapan protokol kesehatan secara wajib bagi semua masyarakat.  Untuk memastikan semua langkah yang dimaksud efektif diterapkan dibentuk juga satuan tugas (satgas) atau Relawan Penanganan dan Pencegahan COVID-19 di tingkat desa dan kelurahan dengan melibatkan berbagai organisasi dan elemen di masyarakat.

Diinisiasi oleh Perempuan
Di Negeri (Desa) Batu Merah telah dibentuk Satgas/Relawan COVID-19 yang melibatkan tujuh orang anggota dan pengurus Kelompok Konstituen Walang Hatukau dalam strukturnya. Kelompok Konstituen adalah organisasi tingkat komunitas yang dibentuk pada tingkat negeri/desa/kelurahan yang bertujuan mengorganisasikan komunitas untuk mengadvokasi hak-hak warga dalam mengakses layanan publik yang disediakan oleh negara/pemerintah. Nama ‘Kelompok Konstituen’ dimaksudkan untuk menghubungkan konstituen dengan wakilnya di parlemen (DPR/DPRD). Organisasi ini juga memperkuat warga dan membangun kesadaran kritis dalam berinteraksi dengan wakil mereka di parlemen maupun dengan pemerintah. Karena itu, Kelompok Konstituen adalah organisasi warga yang bersifat politis (MAMPU-BaKTI, 2019). 

Sejak dibentuk tahun 2014, Kelompok Konstituen Walang Hatukau aktif mengadvokasi kepentingan warga dan mendorong perubahan-perubahan di Negeri Batu Merah. Karena itu, mereka dilibatkan dalam Relawan COVID-19 di Negeri Batu Merah. Begitu terlibat di dalam Relawan COVID-19, Kelompok Konstituen juga sudah siap dengan salah satu usulan yakni, Rumah Isolasi Mandiri bagi Perempuan Pelaku Perjalanan. 

Pada beberapa kali pertemuan yang dilaksanakan oleh Desa dan Relawan COVID-19, Kelompok Konstituen Walang Hatukau mengusulkan pengadaan Rumah Isolasi Mandiri bagi Perempuan tersebut. Usulan ini disetujui oleh Pemerintah Negeri Batu Merah, sehingga pada tanggal 14 April 2020 Rumah Isolasi Mandiri bagi Perempuan Pelaku Perjalanan mulai difungsikan.

Kelompok Konstituen mengusulkan pembentukan Rumah Isolasi Mandiri bagi Perempuan pelaku perjalanan di Negeri Batu Merah, dengan pertimbangan bahwa masyarakat Negeri Batu Merah sebagian besar berada di bawah garis kemiskinan dan tinggal di rumah yang tidak layak, maupun rumah kecil dan sempit, sehingga ketika ada perempuan pelaku perjalanan yang akan melakukan isolasi mandiri di rumahnya pasti akan berdampak bagi anggota keluarga yang lain. 

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Maluku yang telah mengadakan rumah isolasi dianggap tidak responsif terhadap perempuan dan anak, karena semua pelaku perjalanan yang melakukan isolasi, laki-laki maupun perempuan, tinggal bersama sehingga membuat ketidaknyamanan secara khusus bagi perempuan.

Foto: Dok. Yayasan Arika Mahina
Foto: Dok. Yayasan Arika Mahina


Dari Dana Desa
Gagasan yang disampaikan oleh Kelompok Konstituen Walang Hatukau kepada Pemerintah Negeri Batu Merah untuk membuat Rumah Isolasi Mandiri bagi Perempuan, dan menjadikan ruang Perpustakaan di lantai 2 Kantor Negeri Batu Merah sebagai ruang isolasi mendapat sambutan dari pemerintah negeri dan Relawan COVID-19. Apalagi Kelompok Konstituen juga telah menyiapkan Arita Muhlisa, yang merupakan anggota Kelompok Konstituen Walang Hatukau sebagai pengelola Rumah Isolasi Mandiri.  

Gagasan cemerlang Kelompok Konstituen Walang Hatukau dalam pembentukan Rumah Isolasi Mandiri mendapat apresiasi dan dukungan anggaran dari Dana Desa Negeri Batu Merah, untuk penyediaan makan-minum, dan kebutuhan sehari-hari perempuan yang menjalani isolasi, serta pengadaan perlengkapan APD (Alat Pelindung Diri) untuk Tim Relawan yang bekerja di Rumah Isolasi Mandiri. 

Sementara Dinas Kesehatan melalui Puskesmas Negeri Batu Merah juga memberikan dukungan berupa pemantauan serta pemberian obat dan vitamin bagi perempuan yang ada di Rumah Isolasi Mandiri. 

Untuk mengakses Rumah Isolasi Mandiri telah dibuat beberapa prosedur tetap antara lain: perempuan pelaku perjalanan melaporkan diri ke RT/RW setempat dimana dia tinggal, selanjutnya tim kesehatan dari Puskesmas setempat datang untuk memeriksa perempuan pelaku perjalanan. Demikian juga, Tim Relawan COVID-19 akan melakukan kunjungan ke rumah perempuan pelaku perjalanan untuk mengecek situasi dan kondisi rumah. Jika kondisi rumah perempuan bersangkutan dianggap baik dan layak, maka dia akan tetap melakukan isolasi mandiri di rumah. Tetapi jika rumahnya tidak layak untuk isolasi mandiri di rumah, maka dia akan dirujuk untuk diisolasi di Rumah Isolasi Mandiri yang telah disiapkan. Sampai dengan 24 April 2020, telah ada satu orang perempuan pelaku perjalanan yang diisolasi di Rumah Isolasi Mandiri Negeri Batu Merah.

Menurut Arita Muhlisa, awalnya upaya menjadikan lantai 2 Perpustakaan Hatukau yang dikelolanya itu, untuk menjadi Rumah Isolasi Mandiri bagi Perempuan Pelaku Perjalanan tidak sepenuhnya didukung oleh masyarakat. Ketika itu masyarakat yang berada di lingkungan sekitar Kantor Negeri Batu Merah mengetahui bahwa perpustakaan akan dijadikan rumah isolasi mereka protes dan menolak. Namun, melalui pemerintah negeri, saniri negeri, tokoh masyarakat, dan Relawan COVID-19, yang melakukan sosialisasi, pemahaman, dan pendekatan kepada masyarakat, akhirnya masyarakat bisa menerima dan mendukungnya.

Submission Agreement

Terimakasih atas  ketertarikan Anda untuk mengirimkan artikel ke BaKTINews. Dengan menyetujui pernyataan ini, Anda memberikan izin kepada BaKTINews untuk mengedit dan mempublikasikan artikel Anda di situs web dan situs afiliasinya, dan dalam bentuk publikasi lainnya.
Redaksi BaKTINews tidak memberikan imbalan kepada penulis untuk setiap artikel yang dimuat.  Redaksi akan mempromosikan artikel Anda melalui situs kami dan saluran media sosial kami.
Dengan mengirimkan artikel Anda ke BaKTINews dan menandatangani kesepakatan ini, Anda menegaskan bahwa artikel Anda adalah asli hasil karya Anda, bahwa Anda memiliki hak cipta atas artikel ini, bahwa tidak ada orang lain yang memiliki hak untuk ini, dan bahwa konten Artikel Anda tidak mencemarkan nama baik atau melanggar hak, hak cipta, merek dagang, privasi, atau reputasi pihak ketiga mana pun.

Anda menegaskan bahwa Anda setidaknya berusia 18 tahun dan kemampuan untuk masuk ke dalam kesepakatan ini, atau bahwa Anda adalah orang tua atau wali sah dari anak di bawah umur yang menyerahkan artikel.
 
Satu file saja.
batasnya 32 MB.
Jenis yang diizinkan: txt, rtf, pdf, doc, docx, odt, ppt, pptx, odp, xls, xlsx, ods.