Meki Nawipa: “Saya Ingin Lihat Anak Asli Paniai Menggantikan Kami”
  •    Meki Nawipa bersama para ibu yang anak mereka menjadi penerima manfaat dana bantuan BANGGA Papua <br> Foto: Syaifullah/Yayasan BaKTI
    Meki Nawipa bersama para ibu yang anak mereka menjadi penerima manfaat dana bantuan BANGGA Papua
    Foto: Syaifullah/Yayasan BaKTI

Tanggal 13 Desember 2018. Suasana hiruk pikuk di kegiatan pencairan dana program BANGGA Papua, menjadi makin riuh. Seorang lelaki bertubuh gempal berbatik warna ungu diiringi beberapa orang pria lainnya, tiba di lokasi pencairan dana. Semua tampak menghormati-nya. Lelaki itu adalah Meki Fritz Nawipa, mantan pilot pesawat komersil yang resmi diangkat menjadi Bupati Paniai oleh Gubernur Papua, Lukas Enembe tanggal 23 November 2018. 

Bupati Meki Nawipa dengan ramah menyapa orang-orang yang ada di lokasi, termasuk ibu penerima manfaat. Pada kesempatan itu, ia juga secara simbolis memberikan dana bantuan BANGGA Papua kepada salah satu penerima manfaat. Dukungan Bupati Meki Nawipa kepada BANGGA Papua tidak pernah putus. Dalam wawancaranya dengan Syaifullah dari tim BaKTI-BANGGA Papua baru-baru ini, ia bahkan menjelaskan aspirasinya untuk memperluas program BANGGA Papua agar dapat memberikan lebih banyak manfaat pada masyarakat Paniai. 

Terinspirasi BANGGA Papua
Pelaksanaan program BANGGA Papua juga menginspirasi Pemerintah Kabupaten Paniai untuk memperluas program perlindungan sosial tersebut. Meki Nawipa ingin menyasar warga lanjut usia. Ia mengaku sudah mulai merancang program tersebut. Dia menyebut program ini sebagai kolaborasi antara program BANGGA Papua yang merupakan inisiatif Pemerintah Provinsi Papua yang menjamin gizi anak usia empat tahun ke bawah, dengan program Kabupaten Paniai yang menjamin kesehatan para lansia.

“Ini (BANGGA Papua) sudah bagus, artinya dari nol hari sampai empat tahun sudah oke. Yang kita sedang buat adalah bagaimana Pemda Paniai masuk di usia yang belum dijangkau oleh BANGGA Papua, contohnya umur di atas 70 tahun. Jadi kita membiayai lansianya, BANGGA Papua membiayai anak-anak kecil yang 0 hari sampai 4 tahun,” jelas Bupati Nawipa. Langkah pertama yang akan dilakukannya adalah melakukan pendataan bersama dengan Sekber BANGGA Papua Kabupaten Paniai, untuk mengetahui berapa jumlah Orang Asli Papua berusia 70 tahun ke atas yang ada di Kabupaten Paniai. 
“Ini yang kita mau lihat. Data riil ini. Jadi setelah itu, baru kita bicara berapa sih yang kita biayai,” jelasnya lagi.
Ia merencanakan, nantinya masyarakat lansia di kabupatennya bukan hanya dapat uang, tetapi juga layanan kesehatan. 
“Mereka (akan) diperiksa setiap 6 bulan. Sehingga orang-orang tua kami juga masih tetap hidup. Mati dan hidup di tangan Tuhan, tapi kita secara jasmani kita tolong,” tegasnya. 

Good Data, Good Plan
Dalam mewujudkan mimpinya ini, Meki Nawipa mengaku belajar banyak dari BANGGA Papua: akurasi data.
“Data. Ini menjadi sebuah pelajaran buat kami, sehingga ke depan, pemerintah juga bisa jeli melihat cara-cara kerja ini berdasarkan data. Itu salah satu hal yang menolong orang Paniai ke depan untuk bekerja jujur, karena sudah punya data yang bagus,” akunya. 
“BANGGA Papua ini tidak hanya bicara soal bagaimana membagikan dana Otsus kepada masyarakat, tapi juga bicara soal data yang riil. Kita tahu berapa jumlah anak usia empat tahun yang adalah Orang Asli Papua di Paniai,” katanya. “Saya percaya, good data good plan, bad data bad plan, no data no plan,” lanjutnya. 

Proses pendataan calon penerima manfaat program BANGGA Papua memang melibatkan banyak pihak yang bertemu langsung dengan masyarakat sasaran. Ada aparat kampung, ada tenaga kesehatan seperti kader Posyandu, bidan atau petugas Puskesmas. Merekalah yang mendata langsung penerima manfaat, anak usia empat tahun ke bawah beserta ibunya. Proses pendataan juga menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) sebagai dasar pencatatan dan verifikasi. Karena itu, data peserta BANGGA Papua dinilai akurat.

Menurutnya, sekarang pemerintahannya sudah tahu bahwa pada tahun 2018 sudah ada kurang lebih 6.000 anak di Paniai yang berhasil dibantu lewat program BANGGA Papua. Di tahun 2019, anak penerima manfaat BANGGA Papua bertambah menjadi 12.000.  Akurasi data ini ternyata juga menguntungkan banyak pihak. Bukan hanya Sekber BANGGA Papua, tetapi juga Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lain di Kabupaten Paniai. 

“Data BANGGA Papua banyak digunakan oleh OPD lain di Paniai untuk merencanakan pembangunan,” kata Elieser Yogi, Ketua Sekber BANGGA Papua Kabupaten Paniai.  Menurut Elieser Yogi yang adalah juga Sekretaris Bappeda Kabupaten Paniai, ia sudah diperintahkan oleh Bupati Paniai untuk membagikan data BANGGA Papua kepada OPD lain yang membutuhkan. Salah satunya adalah dinas pekerjaan umum yang melakukan perencanaan berdasarkan data Orang Asli Papua yang dimiliki oleh Sekber BANGGA Papua. Program lain yang bakal membutuhkan data BANGGA Papua adalah perencanaan pembangunan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Paniai. 
“Berarti bahwa umur anak-anak Paniai yang dari nol hari sampai empat tahun, itu kita sudah punya 12.000 data lengkap, alamat lengkap, dan itu membantu Pemda Kabupaten Paniai untuk kita mengambil kebijakan dalam membentuk program-program yang lain seperti pembangunan PAUD dan lain-lain. Kita mau melihat generasi emas Papua, Paniai ke depan,” kata Meki Nawipa.

Meki Nawipa secara simbolis memberikan dana bantuan  BANGGA Papua kepada salah satu ibu penerima  manfaat
Meki Nawipa secara simbolis memberikan dana bantuan BANGGA Papua kepada salah satu ibu penerima manfaat 
Foto: Syaifullah/Yayasan BaKTI


Meki Nawipa juga memberi jempol untuk kekompakan kerja tim Sekber BANGGA Papua Kabupaten Paniai yang berasal dari beragam OPD. Menurutnya, kerja lintas OPD itu mengilhami pola kerja yang sama di beberapa program di Paniai. Dia memberikan contoh rencananya membangun enam SD, enam SMP, enam SMA, dan enam Puskesmas di Paniai.
“Kita tidak kerja sendiri. Tidak bisa hanya dinas pendidikan atau dinas kesehatan saja yang masuk. Kita butuh Dinas Komunikasi dan Informatika masuk untuk pasang wifi, Dinas PU masuk supaya ada air bersih. Nah kalau program ini bisa kita match antara program Kabupaten Paniai dan BANGGA Papua, maka hasilnya akan maksimal,” kata Meki Nawipa.
“Visi misi saya kan ada satu kata: saling ketergantungan. Itu artinya bahwa bukan hanya satu kelompok atau satu organisasi atau satu dinas, tapi dari semua kelompok kita jadi satu,” tambahnya lagi.

Prioritas: Pembangunan SDM
Ketika ditanya, bagaimanakah pemanfaatan dana Otsus yang lebih efektif? Digunakan untuk peningkatan kualitas SDM (sumber daya manusia), atau pembangunan infrastruktur?
Ternyata meningkatkan kualitas SDM menjadi tujuan utama dari masa pemerintahan Bupati Meki Nawipa.  Menurutnya, ketika pertama kali dia resmi menjadi Bupati Paniai, dia merasa Kabupaten Paniai kekurangan dari berbagai hal. Namun, dia memutuskan untuk fokus di perbaikan sumber daya manusia dulu.

“Ya,  kalau setelah saya jadi Bupati inikan saya melihat semua sisi kurang, jadi lebih bagus kalau kita membiayai SDM, orang-orang yang takut Tuhan, bisa dipercaya, ah karakternya bagus, dan itu harus kita mulai, jadi saya pikir SDM lebih penting, manusianya,” kata Meki Nawipa. Dalam sebuah pertemuan di kesempatan berbeda, Meki Nawipa juga mengakui kalau Program BANGGA Papua selaras dengan program kerja di masa kepemimpinannya. Dia ingin, pembenahan sumber daya manusia orang asli Paniai mendapatkan prioritas. Ia menilai, tujuan utama Program BANGGA Papua yang mendorong perbaikan gizi untuk anak-anak Paniai, sejalan dengan misi pemerintahannya.

Para penerima manfaat menanti dengan tertib saat proses pembayaran  (kanan) Foto: Syaifullah/Yayasan BaKTI
Para penerima manfaat menanti dengan tertib saat proses pembayaran
Foto: Syaifullah/Yayasan BaKTI


“Saya mau lihat bertahun-tahun nanti, anak-anak asli Paniai yang akan menggantikan kami-kami yang sekarang jadi pemimpin ini,” katanya saat membuka kegiatan Workshop Refleksi  BANGGA Papua Kabupaten Paniai yang diadakan di Enarotali, 25 Februari 2020.  “Karena itu, saya sangat mendukung Program BANGGA Papua,” sambungnya.
Karena itu pula, Meki Nawipa menyampaikan terima kasihnya kepada Gubernur Papua yang telah menggagas Program BANGGA Papua. 
“Kita harus berterima kasih kepada bapak Gubernur Papua, karena program ini kita bisa menolong anak-anak Papua dari usia nol hari sampai empat tahun. Tetap BANGGA Papua maju terus. Kita bangga dengan BANGGA Papua.”

Submission Agreement

Terimakasih atas  ketertarikan Anda untuk mengirimkan artikel ke BaKTINews. Dengan menyetujui pernyataan ini, Anda memberikan izin kepada BaKTINews untuk mengedit dan mempublikasikan artikel Anda di situs web dan situs afiliasinya, dan dalam bentuk publikasi lainnya.
Redaksi BaKTINews tidak memberikan imbalan kepada penulis untuk setiap artikel yang dimuat.  Redaksi akan mempromosikan artikel Anda melalui situs kami dan saluran media sosial kami.
Dengan mengirimkan artikel Anda ke BaKTINews dan menandatangani kesepakatan ini, Anda menegaskan bahwa artikel Anda adalah asli hasil karya Anda, bahwa Anda memiliki hak cipta atas artikel ini, bahwa tidak ada orang lain yang memiliki hak untuk ini, dan bahwa konten Artikel Anda tidak mencemarkan nama baik atau melanggar hak, hak cipta, merek dagang, privasi, atau reputasi pihak ketiga mana pun.

Anda menegaskan bahwa Anda setidaknya berusia 18 tahun dan kemampuan untuk masuk ke dalam kesepakatan ini, atau bahwa Anda adalah orang tua atau wali sah dari anak di bawah umur yang menyerahkan artikel.
 
Satu file saja.
batasnya 32 MB.
Jenis yang diizinkan: txt, rtf, pdf, doc, docx, odt, ppt, pptx, odp, xls, xlsx, ods.