Pertanian Alami Eksis di Tengah Pandemi
Penulis : Sumarni Arianto
  • Foto: Yusuf Ahmad/Yayasan BaKTI
    Foto: Yusuf Ahmad/Yayasan BaKTI

Pangan merupakan penjamin kehidupan, lingkungan merupakan penjamin keberlanjutan pembangunan. Ketahanan pangan dan jaminan keberlanjutan lingkungan merupakan dua hal yang harus dihadirkan bersama. 

Dalam kondisi pandemi COVID-19 ini, tantangan semakin berat dalam menghadirkan keduanya sekaligus. Kelompok Komunitas Swabina Pedesaan Salassae (KSPS) di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan sejak 2011 telah mempraktikkan pertanian alami yang sehat dan ramah lingkungan.  

Pertanian ini mengandalkan dua kekuatan yakni alam sekitar dan manusia di dalamnya. Di masa pandemi ini tidak menghalangi mereka beraktifitas dan membuat penyesuaian-penyesuaian. Mereka tetap eksis, bekerja dari lahan dan ruang-ruang diskusi.

Sebelumnya, penggunaan bahan kimia dilakukan oleh semua petani di Desa Salassae. Pupuk dan pestisida digunakan pada lahan persawahan, kebun dan bahkan halaman rumah tanpa kendali. Tingginya penggunaan pestisida membuat Armin Salassa gelisah. Pada 2011, dengan modal cerita dan pengalaman bekerja sebagai tenaga lapangan di beberapa LSM, ia membuka wacana pertanian alami dan kedaulatan pangan pada beberapa petani.

Foto: Dok. Salassae

Bertani alami dan berorganisasi ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Bertani alami tanpa berorganisasi maka pertanian alami hanya berguna untuk dirinya tidak untuk orang lain. Jika berorganisasi tapi tidak menerapkan pertanian alami maka ini hanya merupakan jalan untuk menindas petani-petani konvensional lainnya yang masih menggunakan pupuk kimia. Olehnya petani alami di Salassae percaya bahwa jika ingin menerapkan pertanian alami maka berorganisasi juga harus dijalankan.

Banyak hal yang sudah berubah pada kehidupan petani alami di desa yang berjarak kurang lebih 187 kilometer dari Kota Makassar ini, bukan hanya dari sisi ekonomi namun juga terkait hubungan dengan alam sekitar. Petani saat ini sudah bisa memproduksi sendiri benihnya. Apa yang ditanam saat ini adalah benih yang diproduksi dalam sembilan tahun terakhir sejak Pertanian Alami mulai diperkenalkan di Desa Salassae. Mereka tidak lagi tergantung pada benih yang harus dibeli. Bahkan antar petani sudah saling tukar menukar benih yang mereka hasilkan sendiri. Pertukaran benih ini tidak hanya dilakukan dengan petani di dalam desa tetapi juga petani pertanian alami di Sulawesi bahkan dengan petani yang ada di Jawa. 

Baru-baru ini salah satu petani yakni Bapak Muhammad Nur sudah menghasilkan 540 butir dari satu malai yang sebelumnya hanya 250 butir, naik 2 kali lipat lebih. Hal yang berubah lainnya adalah dengan bertani alami solidaritas antar petani bertumbuh, bukan hanya dalam desa tapi juga lintas desa. Hal lainnya adalah jika dulu ketika masih bertani menggunakan pestisida kimia, topik diskusi hanya seputar berapa hasil yang diperoleh. Tapi sekarang, topik diskusi lebih beragam dan mendalam. Misalnya ada petani yang paham betul tentang rumput, ada petani yang mempelajari khusus ragam sifat-sifat hama dan pengetahuan itu dipertukarkan dalam ruang-ruang diskusi.
 

Foto: Dok. Salassae


Para petani sudah terbiasa dengan kegiatan beroganisasi, saat ini sudah ada tiga organisasi khusus yang bergerak dalam kegiatan pertanian dan kemasyarakatan di Desa Salassae. Ketiga organisasi ini adalah KSPS sendiri, Serikat Perempuan Salassae dan kelompok pemuda yakni Komunitas Swabina Pemuda Desa Salassae (KASIMPADA) yang dalam bahasa Makassar berarti setara. Kelompok ini terdiri dari pemuda, baik yang sekolah maupun putus sekolah, mahasiswa dan sarjana yang berkegiatan di dalam desa dan dengan orang luar desa. 

Secara garis besar, manfaat diterapkannya pertanian alami yang pertama adalah terkait alam, perlakuan petani alami Salassae memberikan jaminan bahwa tidak ada kerusakan dan ancaman terhadap keberlangsungan lingkungan. Manfaat yang kedua adalah produk pertanian yang dihasilkan jauh lebih sehat, dan yang ketiga dan tak kalah pentingnya adalah dengan pertanian alami, petani mampu mengembangkan kapasitasnya dengan bekerjasama dengan orang lain, dengan saling berbagi dan belajar untuk menemukan inovasi guna pengembangan dunia pertanian.

Kedaulatan menjadi salah satu tujuan utama yang ingin dicapai dalam pertanian alami. Kedaulatan dalam hal ini bukan hanya terkait ketersediaan bahan saja tetapi petani harus menjadikan dirinya sebagai pelaku, peneliti yang paham betul dengan lingkungannya, bisa mengupayakan pengadaan benihnya sendiri serta bisa menyesuaikan ilmu pertanian alaminya sesuai dengan kebutuhannya sendiri. 

Petani selama ini belum berdaulat pada pengetahuannya, benihnya masih bergantung dengan benih di pasaran atau benih yang dibagikan. Meski berulang kali telah gagal dengan benih yang dibeli atau dibagikan, petani di Salassae masih tetap menunggu benih-benih tersebut. Oleh karenanya pertanian alami dianggap sebagai salah satu jalan untuk mengembalikan kedaulatannya. Selain itu, pertanian dengan konsep ini mudah dilakukan, bahan nutrisi pupuk alami bisa disiapkan dalam seminggu dan bisa digunakan untuk puluhan hektar lahan. Tidak perlu mendirikan pabrik, cukup mengumpulkan bahannya dari alam sekitar. Seperti untuk kebutuhan fosfor atau yang dikenal dengan TSP atau Triple Sulfur Phosphate, bisa dibuat dari 1 kilogram jantung pisang dan 1 kilogram gula merah yang kemudian bisa diaplikasikan untuk 5 hektar sawah. 

“Alam sudah berumur puluhan ribu tahun, kimia baru sekitar 50 tahun namun sudah bisa menghancurkan alam. Kedaulatan pangan dan kedaulatan petani kami percaya bisa dikembalikan dengan pertanian alami. Dalam hal ini peran petani dan pemerintah diharapkan bisa mewujudkannya” ungkap Bapak Armin Salassa yang giat mendampingi petani di Salassae.

Dok. Salassae

Sikap Petani dalam Menghadapi Pandemi
Terkait pandemi yang sedang melanda dunia termasuk Indonesia dan Sulawesi Selatan, ada keraguan petani juga terkait penyebarannya saat ini. Banyak petani di Salassae terhenyak ketika mengetahui ukuran virus COVID-19 yang hanya 125 nanometer. Ukuran ini menjadi percakapan betapa berbahayanya mahluk kecil ini. Petani alami jadi teringat bahwa mereka juga mengandalkan mahluk kecil yakni mikroorganisme yang ukurannya kurang lebih 0,009 mikrometer.

Petani di komunitas kemudian saling menghubungi, saling mengingatkan bahwa pandemi ini adalah ujian bagi organisasi untuk tetap bekerja. Ini disikapi sebagai tantangan untuk tetap melakukan pelayanan terhadap sesama petani anggota dan warga desa. Mereka tetap membuat perencanaan dan memastikan kegiatan pertanian tetap jalan. Untuk mengantisipasi lockdown batas negara, provinsi, kabupaten/kota dan batas desa, aktivitas pangan tetap dilanjutkan. Perencanaan budidaya pangan seperti sayur, benih, pembersihan lahan tetap dikerjakan. Meski demikian, kegiatan komunitas tetap sesuai dengan standar anjuran pemerintah seperti pembatasan sosial, tidak berkerumun, menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan. 

Selain itu, organisasi juga mengumpulkan dana diantara sesama anggota dan menyalurkannya ke kelompok lain sebagai modal awal pinjaman tanpa bunga selama setahun. Hal ini untuk mengantisipasi agar tetap ada kegiatan ekonomi. Kerja sama juga dilakukan dengan komunitas petani alami di desa lain seperti dari petani Alami Serikat Petani Butta Toa di Bantaeng yang anggotanya didominasi oleh kaum muda Bantaeng. 

Dengan pengetahuan terbatas di masa pandemi ini petani tidak menggunakan disinfektan tetapi menggunakan mikroorganisme yang sifatnya baik untuk mengalahkan virus maupun bakteri jahat. Mikro organisme lokal yang selama ini menjadi mitra kerja petani Salassae, diharapkan mampu menaklukkan virus dan bakteri jahat tersebut.

Pandemi bukan hanya ujian bagi petani tapi juga ujian bagi mikroorganisme lokal yang ada di sekitar mereka. Mikroorganisme ini dipercaya memiliki peran tertentu dalam kehidupan ini dimana jika dihancurkan dengan membabi buta maka juga akan menghancurkan pertahanan kehidupan kita.

Beberapa anggota kelompok tani saat ini tengah giat menemukan/memperbaiki kualitas padi yang akan disebar untuk petani pertanian alami dan memastikan potensi sumber daya lahan terutama memperhatikan sistem pertahanan, baik di organisasi maupun ketahanan pangan komunitas bisa tetap berlanjut. Skenario terburuk tetap diperhitungkan tetapi tetap membuat perencanaan dengan mengandalkan solidaritas petani. 

Petani Salasse yakin bahwa badai dalam wujud pandemi ini akan berlalu, olehnya perencanaan tetap dibuat dengan mengandalkan kekuatan dan solidaritas petani untuk memastikan kegiatan pelayanan kepada anggota bisa tetap berjalan dengan ragam keterbatasan yang ada saat ini.

Di masa pandemi, petani adalah pejuang untuk melawan COVID-19.  Dengan panen, maka pangan akan selalu ada sebagai imunitas utama untuk melawan COVID-19. Masalah pangan adalah tentang kebutuhan utama manusia, hidup matinya suatu bangsa. Saat ini pejuang melawan COVID-19 bukan hanya dokter, perawat dan tenaga medis tapi juga pelaku pertanian yang tetap bekerja di sawah, ladang, dan kebun untuk berjuang menyediakan pangan bagi seluruh masyarakat. 

Pertanian alami di Salassae adalah salah satu praktik cerdas yang didokumentasikan dan dipromosikan BaKTI pada Panggung Inspirasi Festival Forum Kawasan Timur Indonesia ke VII di Makassar tahun 2015.
 

Submission Agreement

Terimakasih atas  ketertarikan Anda untuk mengirimkan artikel ke BaKTINews. Dengan menyetujui pernyataan ini, Anda memberikan izin kepada BaKTINews untuk mengedit dan mempublikasikan artikel Anda di situs web dan situs afiliasinya, dan dalam bentuk publikasi lainnya.
Redaksi BaKTINews tidak memberikan imbalan kepada penulis untuk setiap artikel yang dimuat.  Redaksi akan mempromosikan artikel Anda melalui situs kami dan saluran media sosial kami.
Dengan mengirimkan artikel Anda ke BaKTINews dan menandatangani kesepakatan ini, Anda menegaskan bahwa artikel Anda adalah asli hasil karya Anda, bahwa Anda memiliki hak cipta atas artikel ini, bahwa tidak ada orang lain yang memiliki hak untuk ini, dan bahwa konten Artikel Anda tidak mencemarkan nama baik atau melanggar hak, hak cipta, merek dagang, privasi, atau reputasi pihak ketiga mana pun.

Anda menegaskan bahwa Anda setidaknya berusia 18 tahun dan kemampuan untuk masuk ke dalam kesepakatan ini, atau bahwa Anda adalah orang tua atau wali sah dari anak di bawah umur yang menyerahkan artikel.
 
Satu file saja.
batasnya 32 MB.
Jenis yang diizinkan: txt, rtf, pdf, doc, docx, odt, ppt, pptx, odp, xls, xlsx, ods.