Mempertahankan Pangan Lokal Dari Ekspansi Makanan Baru: Cerita Dari Atas Piring Orang Yoka di Sentani (Bagian II)
Penulis : Asrida Elisabeth
  • Ikan merah yang baru diambil dari jaring yang dipasang di Danau Sentani. (Project M/Leo Ohee)
    Ikan merah yang baru diambil dari jaring yang dipasang di Danau Sentani. (Project M/Leo Ohee)

Kehadiran para pendatang yang membuka toko bahan makanan maupun warung makan yang mencirikan identitas kuliner daerah di luar Papua lambat laun menggeser keragaman pangan lokal ke beras. Hal ini yang kemudian menggeser selera konsumsi generasi muda, kata Kepala Kampung Yoka, Antonius Mebri.

“Kita tidak bisa lawan zaman. Lahir di tahun yang konsumtif. Begitu masuk warung, makan. Yang penting ada duit. Sedang kita orangtua lahir di tahun produksi. Tanam sendiri, makan sendiri. Itu masalahnya,” kata Antonius.

Ia juga menyoroti fenomena menurunnya jumlah petani dan nelayan muda karena peningkatan pendapatan warga seiring dengan program pemerintah kampung yang mencanangkan “satu rumah, satu sarjana”. Sayangnya, ketika anak-anak sudah mendapat gelar sarjana, mereka lebih memilih profesi selain petani atau nelayan.

Sama seperti Antonius, Amanda mengatakan generasi penerusnya lebih sering membeli bahan makanan di pasar atau pedagang keliling. Ada juga yang meniru kebiasaan pendatang yaitu membeli di pasar lalu menjualnya kembali di kampung.

Dari sudut pandang Amanda, berkurangnya jumlah petani dan nelayan berdampak pula pada sulitnya warga untuk mendapat makanan lokal. Bahkan, sekarang banyak warga lokal yang lebih doyan mengonsumsi mie instan.

“Sekarang beras yang utama. Sagu sudah jarang ada. Kalau beli boleh, ada. Hasil kebun juga beli baru ada karena tidak berkebun. Dulu gampang dapat. Mama-mama yang berkebun biasa bagi-bagi,” kata Amanda.

 

Ikhtiar Melawan Kepunahan

Sudah tiga bulan, pasangan Ulin Epa dan Fredrik Bartolomeus membuka restoran bernama Isasai. Restoran yang berada di tepi Danau Sentani ini memiliki ruangan luas dan terbuka, dengan pemandangan langsung ke arah danau dan perbukitan.

Nama Isasai diambil dari salah satu sungai yang mengalir tak jauh dari restoran. Isasai berarti rumah ikan, citra yang melekat untuk Danau Sentani sebagai salah satu destinasi memancing di Papua.

Isasai menawarkan berbagai makanan lokal seperti papeda dan papeda bungkus, sagu bakar, ubi rebus, ubi tumbuk, pisang rebus, ikan asar, ikan rebus.

“Isasai mau tonjolkan makanan lokal yang sudah jarang ada. Rata-rata kota di sepanjang di jalanan hanya ketemu lalapan saja. Kita di Papua masa tidak ada makanan yang kalau kita ke kampung, dapatnya makan-makan seperti itu, makanan masa kecil,” kata Fredrik.

Bukan hanya pilihan menunya yang melokal, bahan makanan yang disajikan di Isasai semua dibeli dari mama-mama Papua. Jika Isasai terus berkembang, mereka berharap bisa menyerap lebih banyak hasil panen mama-mama yang dijual di pasar.

“Ke sini-sini lebih banyak yang datang orangtua malahan. Karena dong lihat, makanan di sini kan kebanyakan rebus dan asar. Jadi tujuannya memang supaya orang makan-makanan yang sehat,” lanjutnya.

Tak sekadar menawarkan makanan khas Sentani, Isasai juga menjadi tempat untuk belajar tentang alam dan kebudayaan.

Pada bagian tengah restoran disediakan beragam informasi terkait cara-cara konservasi tradisional orang Sentani yang mulai hilang. Dinding-dinding restoran dihiasi ukiran berbagai hewan endemik Danau Sentani.

Dengan keanekaragaman pangan Papua yang sehat, mereka berharap gerakan yang sama juga bisa dikembangkan oleh anak-anak muda Papua di wilayah lain.

Beberapa menu pangan lokal yang tersedia di Isasai. Atas: Dua jenis ubi jalar dan satu jenis keladi dalam satu sajian (kiri). Genemo lilin santan (kanan). Tengah: Papeda di dalam wadah sempe (kiri). Pisang rebus (kanan). Bawah: Sayur tumis kangkung bunga pepaya (kiri). Ikan gabus asar santan (kanan). (Project M/Asrida Elisabeth)

 

Politisasi Gerakan Pangan Lokal

Fadli Rahman, sejarawan pangan dan dosen ilmu sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran di Jawa Barat mengatakan, gerakan mempertahankan pangan lokal perlu mendapatkan dukungan yang serius dari pemerintah.

Di Papua, Isasai bukan yang pertama. Sebelumnya juga ada gerakan serupa yang dilakukan kelompok Jungle Chef pimpinan Charles Toto.

“Dalam sebuah gerakan pangan lokal sebagai gerakan politik itu adalah mengedukasi masyarakat agar kembali kepada selera asal dan mengenal kembali potensi pangan lokal mereka,” kata Fadli.

Menurutnya, ada dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam hal membangkitkan kembali pangan lokal demi kedaulatan pangan. Pertama, mempertahankan ekosistem pangan, dan kedua, memperkuat kebudayaan pangan lokal. Sulit membicarakan kedaulatan pangan saat ekosistem pangannya sudah hancur atau rusak.

“Kalau kedua aspek ini tidak kuat, seperti yang kita perhatikan, budayanya sudah melemah oleh kepungan industri makanan instan dan cepat saji, dan ketika budaya lemah, perhatian pada ekosistem pangan juga akan berkurang,” kata Fadli.

Kebijakan pangan yang berorientasi pada beras sejak 1970-an, telah membuat beras menjadi konsumsi pokok masyarakat Papua, di kota bahkan pedalaman. Alih fungsi lahan pangan lokal menjadi lahan padi, proyek pembangunan, maupun industri perkebunan menambah masalah, tulis Fadli dalam kolomnya tahun 2018, Kelaparan-kelaparan Tersembunyi.

Pengetahuan masyarakat Papua terhadap arti penting pangan lokal dalam keseharian hidupnya perlahan-lahan mulai terputus, bukti dari ketiadaan edukasi dan pendampingan dalam menjaga tradisi.

Warga kampung Yoka sedang membersihkan lahan di pinggir kampung yang akan menjadi kebun percontohan untuk menanam aneka pangan lokal. (Project M/Asrida Elisabeth)

 

Di Kampung Yoka, mudahnya akses pada makanan dari luar membuat situasi rawan pangan masih bisa dihindari. Namun, ketergantungan pada uang untuk membeli pangan tanpa disadari membuat warga enggan memproduksi sendiri.

Bahkan menurut Amanda, kadang-kadang terjadi situasi warga kehabisan makanan.

“Di rumah macam kehabisan beras, itu biasa to, lapar. Aduh, hari ini tong tidak masak makanan, lapar, beras habis. Kitong jadi seperti orang-orang luar begitu karena tidak ada kebun. Beras habis, sudah, kitong tinggal bersaudara dekat-dekat, kasi saya sedikit dulu,” kata Amanda.

Sampai saat ini, belum ada penelitian khusus terkait dampak perubahan pola konsumsi jenis pangan terhadap kesehatan anak muda.

Namun, Kepala Puskesmas Yoka, dr. Melissa Hascatri, mengatakan saat ini sudah mulai ditemukan penyakit-penyakit dalam kategori sindrom metabolistik yang biasanya ditemukan pada orangtua, seperti penurunan fungsi organ pankreas yang menyebabkan diabetes, pada orang muda di Yoka.

“Kalau orang tua dulu ketemunya (diabetes) di usia 50 ke atas. Sekarang kalau di layanan ada di antara 40 sampai 50 sudah ada. Sering juga di bawah 40 sudah ada,” kata Melissa. Dugaan kuatnya karena kandungan gula pada nasi, dan bahan olahan tepung seperti roti dan mie.

Meski sulit untuk dilawan, Antonius menyadari fenomena terkikisnya pelestarian pangan lokal harus segera diatasi. Pada akhir September 2022, pemerintah setempat menjalankan program pembangunan kebun percontohan yang ditanami aneka pangan lokal. Mereka juga membuat keramba-keramba ikan di danau.

“Sekarang sering beli. Makanya ajak. Ini namanya mengajak untuk kembali bertani konsumsi apa yang kita punya, memanfaatkan kita punya lahan sendiri tanah, air, hutan. Kita pakai sendiri, kita tidak perlu beli,” kata Antonius.

 

Submission Agreement

Terimakasih atas  ketertarikan Anda untuk mengirimkan artikel ke BaKTINews. Dengan menyetujui pernyataan ini, Anda memberikan izin kepada BaKTINews untuk mengedit dan mempublikasikan artikel Anda di situs web dan situs afiliasinya, dan dalam bentuk publikasi lainnya.
Redaksi BaKTINews tidak memberikan imbalan kepada penulis untuk setiap artikel yang dimuat.  Redaksi akan mempromosikan artikel Anda melalui situs kami dan saluran media sosial kami.
Dengan mengirimkan artikel Anda ke BaKTINews dan menandatangani kesepakatan ini, Anda menegaskan bahwa artikel Anda adalah asli hasil karya Anda, bahwa Anda memiliki hak cipta atas artikel ini, bahwa tidak ada orang lain yang memiliki hak untuk ini, dan bahwa konten Artikel Anda tidak mencemarkan nama baik atau melanggar hak, hak cipta, merek dagang, privasi, atau reputasi pihak ketiga mana pun.

Anda menegaskan bahwa Anda setidaknya berusia 18 tahun dan kemampuan untuk masuk ke dalam kesepakatan ini, atau bahwa Anda adalah orang tua atau wali sah dari anak di bawah umur yang menyerahkan artikel.
 
Satu file saja.
batasnya 24 MB.
Jenis yang diizinkan: txt, rtf, pdf, doc, docx, odt, ppt, pptx, odp, xls, xlsx, ods.