Jejak Peradaban Perempuan Adonara Dulu dan Sekarang
  • Foto: KITLV
    Foto: KITLV

Perbincangan tentang perempuan pada umumnya memang selalu menarik perhatian publik. Kata “Perempuan Adonara” tentu memiliki idiom tersendiri. Terkait dengan itu, ada beberapa pertanyaan yang patut diajukan. Pertanyaan pertama, apa yang membedakan perempuan Adonara dengan perempuan pada umumnya? Pertanyaan tersebut sekaligus menegaskan apa sesungguhnya prinsip peradaban perempuan Adonara itu dibanding dengan perempuan yang bukan Adonara? Pertanyaan kedua, kondisi faktual seperti apa yang dialami perempuan Adonara dulu dan sekarang? Dan pertanyaan ketiga, seperti apa peradaban perempuan Adonara yang bermartabat yang diharapkan oleh semua elemen masyarakat Adonara pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya? Tulisan ini mencoba menguraikan tiga pertanyaan tersebut diatas sebagai bahan perenungan kita semua dalam menyikapi jejak peradaban perempuan Adonara dulu dan sekarang.

Peradaban Bertumbuh dari Kebudayaan dan Modernitas
Apa yang dimaksudkan dengan peradaban itu? Peradaban adalah kumpulan suatu identitas terluas dari seluruh hasil budaya manusia, yang mencakup seluruh aspek hidup manusia, baik fisik seperti bangunan, jalan, maupun non fisik seperti nilai, tatanan, seni budaya, ataupun ilmu pengetahuan dan teknologi yg teridentifikasi melalui unsur obyektif umum, seperti bahasa, sejarah.

Uraian tersebut setidaknya menggambarkan bahwa peradaban adalah bagian dari budaya yang halus, indah, maju dan tinggi. Selain itu dapat dimaknai juga bahwa peradaban bertumbuh dari budaya (tradisi) dan kehidupan modern. Peradaban dengan demikian berada diantara dua kutub yakni kebudayaan dan modernitas yang pada gilirannya menghasilkan nilai-nilai, prinsip-prinsip dan norma yang hidup di tengah masyarakat. Itu sebabnya diskusi tentang peradaban perempuan Adonara, hemat saya harus diawali dengan pertanyaan apa saja prinsip dasar yang menjadi pijakan kita dalam menelusuri jejak peradaban dimaksud. Tanpa itu, kita akan kehilangan arah, yang pada akhirnya kita terjebak dalam hutan rimba pendapat yang kita lontarkan. Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena kita tidak punya panduan dalam membangun dan menganalisis sebuah realita sosial yang hendak kita tuju.

Beberapa Prinsip Peradaban Perempuan Adonara
Berbicara tentang prinsip peradaban perempuan Adonara, tentu sangat banyak. Saya coba mengangkat beberapa diantaranya sebagai bahan kajian dalam tulisan ini.
Urusan doa adat secara khusus di rumah adat dengan sebutan doa adat di rie hikung liman wanan (bau lolon) menjadi hak atau domain amalake atau kaum laki-laki Adonara. Apa yang menjadi domain dari kaum laki-laki (amalake) Adonara menandakan bahwa perempuan atau inawae Adonara tidak punya otoritas melakukan ritual doa adat Adonara dalam bentuk bau lolon dalam upacara adat di rie hikun liman wanan. Kondisi seperti ini tidak berarti menyepelekan hak perempuan Adonara.

Perempuan Adonara tidak memiliki hak waris atas tanah tetapi memiliki hak waris berupa emas dan kala kwatek. Apakah ini sebuah ketidakadilan? Saya yakin tidak demikian adanya, karena pengaturan yang demikian pada zaman dahulu oleh kaka ama atau para leluhur (nenek moyang) kita, tentu dengan pertimbangan filosofis secara mendalam atau bahkan pertimbangan secara spiritual. Bagi orang Adonara, kepemilikan hak atas tanah secara adat berkaitan atau berhubungan dengan penguasaan wilayah teritorial secara hukum bagi hak uma lango (rumah adat), suku dan lewo (kampung adat).

Perempuan neket tane, amalake mang kwanang (perempuan menenun, laki-laki berkebun). Kita sangat paham bahwa filosofi ini lahir pada jaman masyarakat agraris. Apa yang bisa kita maknai pada jaman now? Saya memaknai bahwa adanya pembagian peran dari perempuan Adonara dengan laki-laki Adonara. Pembagian peran ini menunjukkan sinergi antara perempuan dan laki-laki sebagai rekan sekerja dalam membangun kehidupan manusia Adonara secara berkeadilan.

Kekerabatan Patrilineal (garis turunan laki-laki/amalake). Prinsip ini menggambarkan bahwa garis keturunan mengikuti keturunan amalake/laki-laki. Ini bukan menandakan bahwa perempuan Adonara tidak dihargai. Sejatinya perempuan Adonara itu sangat dihargai sebagaimana terlihat dari adanya ritual khusus yang dilakukan oleh masyarakat Adonara. Misalnya dalam upacara adat “tuno wata” di wilayah Barat Adonara. Pada ritual tersebut pihak perempuan menjadi “ratu” dan pihak laki-laki menjadi “pelayan”. Mulai saat membeli barang keperluan di pasar dilakukan oleh laki-laki dengan berjalan kaki. Memasak juga laki-laki, bahkan saat makan juga perempuan harus lebih dulu makan dan laki-laki harus melayani perempuan. Di Wilayah Timur dikenal dengan “oiknirek”. Kekerabatan patrilineal ini tidak sama dengan budaya patriarki. Karena budaya patriarki adalah budaya yang memposisikan kekuasaan mutlak berada di tangan ayah atau laki-laki.

Perempuan Adonara weling witi noon bala (mempunyai belis gading gajah dan binatang kambing bertanduk panjang). Saya dapat memaknai bahwa weling witi noon bala berarti bahwa perempuan Adonara adalah perempuan dengan posisi yang sangat terhormat, berharga, keramat (plate-plate) dan powerful. Saya dapat memaknai filosofi terhormat ini dengan menghubungkan makna tanduk kambing (tarang) bagi masyarakat Adonara bermakna mahkota. Filosofi atau makna keberhargaan, saya kaitkan dengan gading gajah (bala). Kiranya sangat tepat ungkapan yang mengatakan bahwa “Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama baik.” Filosofi keramat saya kaitkan filosofi binatang kambing bagi orang Adonara dalam prosesi adat adalah binatang sakral atau istilah orang Adonara dinamakan binatang plating. Filosofi powerfull atau sangat kuat (kuat kemuha) saya kaitkan dengan filosofi binatang gajah yang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa atau powerfull.

Kondisi Faktual Peradaban Perempuan Adonara
Perempuan Adonara juga mewarisi peradaban yang lahir dari tradisi budaya dan dunia modern yang sedang dihadapi saat ini. Ada beberapa kondisi faktual yang dapat saya potret untuk kita renungkan bersama.

Masih adanya pandangan, meskipun tidak banyak yang menyatakan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Jumlah sarjana perempuan Adonara masih lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah sarjana laki-laki Adonara. Perlu adanya komitmen yang kuat dari setiap perempuan Adonara untuk memajukan diri pribadi khususnya dalam bidang pendidikan.

Menariknya tidak ada hambatan budaya sedikitpun bagi perempuan Adonara untuk berkiprah dalam berbagai area kehidupan. Artinya bahwa terbukanya kesempatan yang luas bagi perempuan Adonara untuk berkiprah dalam berbagai bidang kehidupan. Kalau kita mengenal pada jaman sebelum kemerdekaan, Indonesia pernah mengalami masa gelap dimana perempuan dipingit dan tidak punya kesempatan untuk mengikuti pendidikan. Maka di Adonara, tidak ada catatan kelam bahwa perempuan Adonara dilarang dan dipingit sebagaimana yang pernah terjadi di zaman dahulu sebelum Indonesia merdeka.

Saya berharap momentum yang sangat berharga ini, harus dimanfaatkan dengan baik oleh perempuan Adonara dalam mengembangkan dirinya terlebih secara personal untuk mengahadapi tantangan global yang ada di depan mata.  

Peradaban Perempuan Adonara  yang Bermartabat
Peradaban dibangun dari tradisi dan modernitas. Itu sebabnya kedua kekuatan ini, mau tidak mau saling memengaruhi. Karena itu meskipun dunia modern sangat memengaruhi perempuan pada umumnya termasuk perempuan Adonara, namun tradisi dan budaya yang baik, harus tetap dipelihara di tengah perubahan dunia ini.

Perempuan Adonara harus mampu menghayati dan memaknai mahar perkawinan gading gajah dan binatang kambing bertanduk panjang (weling witi noon bala) sebagai prinsip terhormat, berharga, keramat (plate-plate) dan powerfull (kuat kemuha) sebagai spirit untuk berperan di era modern ini. Spirit ini harus mengakar kuat dalam sanubari perempuan Adonara. Menjaga martabat perempuan Adonara secara terhormat dengan perilaku yang santun, tegur sapa dengan ciri khas Adonara. Martabat berharga bukan berbicara tentang “mahalnya” tapi esensi dari kualitas hidup manusia pada umumnya dan perempuan Adonara pada khususnya dalam merespon pergaulan sosial. Keramat (plate-plate) bermakna bahwa jika persoalan perempuan Adonara ini tidak diatur dengan baik maka dapat menimbulkan malapetaka.

Melalui penghayatan dan pengejahwantahan prinsip-prinsip di atas, saya percaya dan yakin bahwa pandangan negatif terhadap perempuan Adonara dengan sendirinya akan hilang. Bahkan sebaliknya, orang semakin mengagumi perempuan Adonara karena mereka melihat perempuan Adonara memiliki prinsip-prinsip kehidupan yang berakar kuat dalam budaya Adonara di tengah dunia modern ini.

Perempuan Adonara dan laki-laki Adonara (amalake) adalah rekan kerja dalam menata kehidupan yang lebih baik (amalake mang kewanang perempuan neket tane). Rekan sekerja artinya masing-masing pihak menempatkan diri sesuai dengan fungsi dan kewenangan yang dimilikinya untuk saling mendukung, membangun sebuah kehidupan yang lebih sejahtera. Fungsi dan kewenangan ini bisa dipahami dengan baik manakala kedua belah pihak menghayati prinsip-prinsip sebagai perempuan Adonara dan tentu pihak laki-laki (amalake) juga memahami dan menghayati dengan dengan baik fungsi dan kewenangannya sebagai amalake Adonara. Berdasarkan prinsip-prinsip di atas meskipun tidak diuraikan secara khusus tentang prinsip amalake Adonara tapi secara tersirat fungsi dan kewenangan itu bisa ditemukan. Salam Lewotanah.

Submission Agreement

Terimakasih atas  ketertarikan Anda untuk mengirimkan artikel ke BaKTINews. Dengan menyetujui pernyataan ini, Anda memberikan izin kepada BaKTINews untuk mengedit dan mempublikasikan artikel Anda di situs web dan situs afiliasinya, dan dalam bentuk publikasi lainnya.
Redaksi BaKTINews tidak memberikan imbalan kepada penulis untuk setiap artikel yang dimuat.  Redaksi akan mempromosikan artikel Anda melalui situs kami dan saluran media sosial kami.
Dengan mengirimkan artikel Anda ke BaKTINews dan menandatangani kesepakatan ini, Anda menegaskan bahwa artikel Anda adalah asli hasil karya Anda, bahwa Anda memiliki hak cipta atas artikel ini, bahwa tidak ada orang lain yang memiliki hak untuk ini, dan bahwa konten Artikel Anda tidak mencemarkan nama baik atau melanggar hak, hak cipta, merek dagang, privasi, atau reputasi pihak ketiga mana pun.

Anda menegaskan bahwa Anda setidaknya berusia 18 tahun dan kemampuan untuk masuk ke dalam kesepakatan ini, atau bahwa Anda adalah orang tua atau wali sah dari anak di bawah umur yang menyerahkan artikel.
 
Satu file saja.
batasnya 32 MB.
Jenis yang diizinkan: txt, rtf, pdf, doc, docx, odt, ppt, pptx, odp, xls, xlsx, ods.