• Kampung Marsi <br> Foto: Dok. Program KOMPAK-LANDASAN Fase II
    Kampung Marsi
    Foto: Dok. Program KOMPAK-LANDASAN Fase II

Origenes Talahatu bukanlah sembarang kepala kampung. Selain supel, laki-laki berusia 40 tahun itu  juga tampak tak berjarak dengan warganya. Selain menjabat sebagai Kepala Kampung Marsi, di Distrik Kaimana, Papua Barat, dia juga berprofesi sebagai sopir Angkutan desa. Berbeda dari kebanyakan sopir, Origenes tak terlalu berhitung dari sisi bisnis. Selama dia melihat ada warganya yang punya kepentingan pergi ke Kota Kaimana yang berjarak 10 kilometer dari Marsi, dia akan mengantar. Kadang hanya dua penumpang, kadang hanya tiga, langsung  tancap gas. Begitu pula kalau dia sudah berada di kota, sebelum balik lagi ke Marsi, dia akan berkeliling Kota Kaimana, mencari warga desanya yang masih tertinggal di kota itu, untuk diajaknya pulang.

Jarak dari Marsi ke Kaimana memang hanya 10 kilometer, tetapi jalannya berkelok penuh tanjakan dan turunan, dan beberapa bagian rusak cukup parah. Sehingga jarak yang sebetulnya dekat harus ditempuh dalam waktu yang agak lama. Selain itu, tidak banyak angkudes beroperasi. Padahal banyak warga Marsi yang berkepentingan dengan angkutan, terutama untuk menjual hasil bumi seperti pala, kopra, dan pisang.

Kebanyakan penduduk Marsi merupakan anggota Suku Mairasi, yang merupakan salah satu suku terbesar di Kabupaten Kaimana. Di Kaimana sendiri ada dua suku besar dan beberapa sub-suku. Suku besar itu adalah Suku Kuri dan Suku Mairasi. Dari dua suku besar ini kemudian terbagi lagi menjadi beberapa sub-suku. Suku Kuri: sub-suku Herarutu, Kamberaw, Madewana, Koiwai, dan sub-suku Kuri. Suku Mairasi terdiri dari sub-suku Miere dan Napiti. 

Pada 2013, Origenes dilantik menjadi Kepala Kampung Marsi. Semenjak itu, dia tahu kalau ada banyak hambatan di desanya dalam hal administrasi desa. Terlebih ketika harus membuat berbagai kegiatan perencanaan pembangunan desa. Selama beberapa tahun setelah menjabat, dia melakukan tugas dengan cara biasa saja. Semua yang bisa dikerjakan, ya dikerjakan, tanpa pengetahuan memadai dan perencanaan yang jelas.

(kiri ke kanan) Origenes Talahatu Kepala Kampung Marsi, Thomas Djopari dan Roni Jaisona, keduanya adalah Kader Kampung Marsi
Origenes Talahatu Kepala Kampung Marsi
Foto: Dok. Program KOMPAK-LANDASAN Fase II


Sebetulnya dia berharap dengan adanya pendamping desa. Namun sayang, pendamping desa di Marsi tidak pernah nongol. Akibatnya, tak banyak hal yang bisa dia lakukan.
Beruntung, sejak tahun 2017, Program KOMPAK-LANDASAN II masuk ke Marsi. Di kegiatan itu, dia dibantu oleh dua kader yang mumpuni: Rony Jaisona (31) dan Thomas Djopari (33). Berbagai pelatihan yang diikuti tentang perencanaan dan sistem administrasi kampung membuat matanya terbuka. Berbagai pertanyaan yang menggelayutinya bertahun-tahun semenjak menjabat sebagai kepala kampung, perlahan mulai tersingkap.

Terlebih ketika ada program pembuatan SAIK. Dari program itu, dia jadi tahu persis bagaimana keadaan warganya, anggota keluarganya sebetulnya berapa, dan kondisi perekonomian mereka seperti apa.
    
“Saya kenal semua warga kampung. Tapi kan saya tidak tahu bagaimana kondisi mereka, apakah bagian rumah mereka sudah sehat atau belum,” begitu pengakuan Origenes, “Dengan SAIK kini saya tahu semua hal yang ada di semua rumah tangga warga Marsi. Dengan begitu, kami lebih mudah untuk membuat perencanaan pembangunan.”
 
Kini semua aktivitas dan tata kelola kampung dilakukan berdasarkan data SAIK. Misalnya dalam hal surat menyurat seperti surat pembuatan pengantar KTP, surat pengantar pembuatan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK), dan surat keterangan domisili. SAIK pun dijadikan acuan dalam musyawarah kampung. Misalnya pengusulan perencanaan pembuatan fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus) di rumah warga, berdasarkan data yang ada di SAIK, sebab data itulah yang paling valid dan bisa dipertanggungjawabkan. Termasuk perencanaan pembuatan fondasi rumah bagi warga yang sudah berkeluarga, yang masih menumpang di rumah orangtua masing-masing, juga menggunakan data dari SAIK.

 Thomas Djopari dan Roni Jaisona, keduanya adalah Kader Kampung Marsi
Thomas Djopari dan Roni Jaisona, keduanya adalah Kader Kampung Marsi
Foto: Dok. Program KOMPAK-LANDASAN Fase II


Rony Jaisona dan Thomas Djopari banyak membantu Origenes. Berbeda dari Origenes yang lulusan SMP, Rony sempat mengenyam bangku kuliah di Manokwari, tapi karena persoalan ekonomi, dia tidak melanjutkan kuliah, lalu memilih pulang ke kampung. Rony lalu aktif sebagai Kader Kampung di Marsi.

Rony bukan orang yang banyak bicara, dia orang yang tekun bekerja. Saban hari dia sibuk mendata warga untuk dimasukkan ke dalam SAIK. Ottow Sineri, Provincial Manager Program KOMPAK-LANDASAN Fase II Papua Barat mengatakan bahwa Rony dan Thomas merupakan Kader Kampung yang hebat. “Mereka ini sebetulnya belum dapat pelatihan untuk menginput data. Namun mereka berdua belajar secara otodidak dan mampu menginput data SAIK.”

Ketiga orang itu bekerja bahu-membahu untuk kemajuan kampung Marsi. Mereka juga bekerjasama dengan pihak sekolah. Sebab bagi ketiga orang tersebut, salah satu masa depan Marsi terletak pada pendidikan anak-anak. Maka mereka rajin datang ke sekolah, berdiskusi dengan pihak sekolah tentang apa saja yang menjadi hambatan pendidikan di SD yang ada di kampung itu, dan terutama juga berkoordinasi dengan Pelipus Naroba, lelaki berusia 60 tahun yang baru saja pensiun sebagai guru di sekolah tersebut yang kemudian terpilih sebagai Ketua Komite Sekolah SD YPK Sisir I.

Salah satu kegiatan Pelipus setiap hari adalah datang ke sekolah, mengecek siapa saja anak yang tidak masuk, lalu dia berkeliling kampung      untuk mengetahui dengan pasti, apa yang    menyebabkan anak-anak itu tidak masuk sekolah. Pengalamannya berpuluh tahun menjadi guru, membuatnya memiliki naluri dan kepedulian yang tinggi dalam bidang pendidikan.

Dunia pendidikan di Marsi lumayan bagus. Anak-anak tertib sekolah. Jika mereka sudah lulus SD, anak-anak itu akan melanjutkan ke SMP di kampung sebelah dengan sistem asrama. “Sekolah gratis, asrama juga gratis. Sabtu mereka pulang, Minggu sore mereka balik lagi ke asrama,” ungkap Pelipus dengan nada bangga. Dengan begitu, nyaris orang tua murid tidak terlalu terbebani dengan biaya pendidikan anakanak mereka. Baru ketika mereka mau melanjutkan ke SMA, orang tua akan menanggung lagi biaya, terutama untuk kos dan transportasi.

Sebetulnya hal itu juga sudah dipikirkan oleh Origenes dan Kader Kampung. Origenes memaparkan, “Makanya kami sedang berpikir keras dan berusaha agar jalan dari Marsi ke Kaimana bagus. Karena kalau jalanan bagus, waktu tempuh paling hanya 15 sampai 20 menit saja. Sehingga anak-anak bisa sekolah pulang-pergi setiap hari. Dengan demikian, biayanya tak terlalu mahal.”

Tata kelola kampung juga mulai berjalan dengan baik. Misalnya dalam pembangunan dan pengawasan kampung. “Kami bertiga setiap hari selalu berusaha mengecek dan berkoordinasi dengan berbagai dinas di Kaimana,” ujar Origenes. Itu dilakukan sembari menjalankan profesinya sebagai sopir. Jadi, ketika menyupir ke Kaimana, setelah mengantarkan warga mereka ke tempat tujuan, entah ke pasar atau ke pelabuhan, dia langsung datang ke dinas-dinas untuk berkoordinasi. Biasanya dia ditemani oleh Rony dan Thomas.

Origenes sebetulnya punya bakat melakukan tata kelola kampung yang baik. Ini bisa dilihat dari bagaimana dia dan warga kampung menyikapi sebuah perusahaan budidaya mutiara di kampungnya. Di kampung Marsi, ada sekitar seratus pekerja dari luar daerah mereka yang tinggal di mes. Pihak perusahaan membantu berbagai acara yang dihelat di kampung. Selain itu, untuk konsumsi sehari-hari, mereka wajib membeli dari warga kampung, baik itu berupa sayuran dan ikan.

Warga lalu didorong untuk bentuk kelompok-kelompok kecil untuk menyuplai kebutuhan itu setiap hari. Ada kelompok yang khusus menyuplai sayuran dan bahan makanan lain, ada pula yang khusus menyuplai ikan. Dengan begitu warga bisa merasakan manfaat dari kehadiran perusahaan tersebut. Ke depan, Origenes, Rony, dan Thomas, punya perhatian besar untuk mengoptimalkan pendapatan masyarakat dari penanaman pala. Dengan komoditas itu, warga punya pendapatan yang cukup baik, sehingga bisa menabung. Dengan begitu, mulai ada pandangan yang jauh ke depan bagaimana  pengelola kampung. Mereka memperhatikan tata kelola kampung, sektor pendidikan, dan kesejahteraan warga. Sebuah langkah kecil yang luar biasa sedang berlangsung di Marsi.
 

Submission Agreement

Terimakasih atas  ketertarikan Anda untuk mengirimkan artikel ke BaKTINews. Dengan menyetujui pernyataan ini, Anda memberikan izin kepada BaKTINews untuk mengedit dan mempublikasikan artikel Anda di situs web dan situs afiliasinya, dan dalam bentuk publikasi lainnya.
Redaksi BaKTINews tidak memberikan imbalan kepada penulis untuk setiap artikel yang dimuat.  Redaksi akan mempromosikan artikel Anda melalui situs kami dan saluran media sosial kami.
Dengan mengirimkan artikel Anda ke BaKTINews dan menandatangani kesepakatan ini, Anda menegaskan bahwa artikel Anda adalah asli hasil karya Anda, bahwa Anda memiliki hak cipta atas artikel ini, bahwa tidak ada orang lain yang memiliki hak untuk ini, dan bahwa konten Artikel Anda tidak mencemarkan nama baik atau melanggar hak, hak cipta, merek dagang, privasi, atau reputasi pihak ketiga mana pun.

Anda menegaskan bahwa Anda setidaknya berusia 18 tahun dan kemampuan untuk masuk ke dalam kesepakatan ini, atau bahwa Anda adalah orang tua atau wali sah dari anak di bawah umur yang menyerahkan artikel.
 
Satu file saja.
batasnya 32 MB.
Jenis yang diizinkan: txt, rtf, pdf, doc, docx, odt, ppt, pptx, odp, xls, xlsx, ods.