Suatu Praktik Kajian Bersama Pemerintah, Akademisi dan LSM
Penulis : Rahmad Sabang
  • Sutra Soppeng pernah berjaya puluhan tahun silam namun meredup  dan membuat budi daya ulat sutera menjadi cukup asing bagi  generasi sekarang. Kini Pemerintah Kabupaten Soppeng berkomitmen untuk mengembalikan kejayaan sutra Soppeng.  Sumber Foto : https://distan.soppengkab.go.id�
    Sutra Soppeng pernah berjaya puluhan tahun silam namun meredup dan membuat budi daya ulat sutera menjadi cukup asing bagi generasi sekarang. Kini Pemerintah Kabupaten Soppeng berkomitmen untuk mengembalikan kejayaan sutra Soppeng. Sumber Foto : https://distan.soppengkab.go.id

Sudah menjadi komitmen Gubernur Nurdin Abdullah, sejak dipercaya masyarakat menjadi nakhoda pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, menjalankan pemerintahan dan pembangunan dengan pendekatan sinergitas dengan para pihak dan mengarusutamakan (mainstreaming)  kajian/riset pada setiap agenda kebijakan pemerintah provinsi. Karena itulah, kehadiran pilot program kebijakan berbasis pengetahuan di Sulawesi Selatan, atas kerja sama BaKTI-KSI dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui BAPPELITBANGDA, dengan dukungan dana pemerintah Australia dan BAPPENAS mendapat sambutan positif.

Respon ini  disampaikan Gubernur Nurdin Abdullah awal Agustus 2020 saat menerima kunjungan Deputi Direktur Yayasan BaKTI, Zusanna Gosal dan tim di Rumah Jabatan Gubernur. Pada pertemuan itu, dilaporkan perkembangan program pilot program kebijakan berbasis pengetahuan, yang telah mamasuki fase kedua dari tiga fase yang diagendakan. Fase pertama,  adalah proses agenda setting selesai Maret 2020, dilanjutkan, fase ke dua adalah pelaksanaan kajian dalam rangka proses formulasi kebijakan yang akan berlangsung hingga akhir tahun ini, dan fase ke tiga adalah pengambilan kebijakan, ini ranahnya Gubernur untuk menetapkan regulasi, dengan pilihan Peraturan Gubernur (Pergub) atau Surat Keputusan Gubernur (SK).

Di fase pertama, proses penyusunan agenda berproses pertemuan informal dengan stakeholder kunci pembangunan dan lima kali pertemuan formal, yang akhirnya menghasilkan rumusan kajian rantai nilai komoditas, dengan kesepakatan menetapkan sutra dan talas satoimo sebagai pintu masuk kajian. Perjalanan menuju fase kajian, dengan dua komoditas dihadang pandemi COVID-19, yang mulai merebak di Makassar pada pertengahan Maret. Skenario kajian-pun berubah, dari dua komoditas menjadi satu, disepakati fokus pada sutra, yang sepenuhnya mengandalkan sumber daya KSI dan BaKTI. Jadilah agenda menyisakan talas satoimo, dengan harapan, ke depan BAPPELITBANGDA  memprogramkan kajian rantai nilai komoditas sutra sebagai prioritas kajian.

Penundaan kajian talas satoimo, direspon oleh Prof. Nurdin Abdullah, dengan harapan kajian komoditas rantai nilai talas satoimo juga diprioritaskan. Menurutnya komoditas talas satoimo dan sutra sama pentingnya, keduanya berpeluang  menopang ekonomi Sulawesi Selatan kedepan. Bisa dipahami, sebagai komoditas baru, boleh jadi  talas satoimo adalah jawaban atas rekomendasi forum multipihak pada proses agenda setting. Bahwa, pertumbuhan ekonomi Sulawesi.

Saat perekonomian nasional dan wilayah di tanah air menikmati surplus melalui margin keuntungan selama pertumbuhan ekonomi, petani kecil dan buruh tani nyaris tidak memperoleh tetesan ke bawah secara berarti. Kehidupan mereka tetap pada batas tertinggi tingkat subsistem. Data Susenas yang setiap tahun dirilis menunjukkan petani kecil dan buruh tani secara laten tergolong ke dalam kelompok pendapatan 40% terbawah. Dalam kelompok pendapatan ini, mereka tergolong mayoritas, berdampingan dengan kaum marginal yang hidup di daerah perkotaan. Di saat COVID-19 yang menyebar cepat, mereka ini sudah lama terjerambab lalu kemudian tentu saja semakin terhimpit.

Image removed.
Para perempuan yang membudidayakan ulat sutra di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, melakukan proses untuk menghasilkan benang dengan cara yang
sangat tradisional. Sumber Foto : (tangkapan layar) Netmediatama https://www.youtube.com/watch?v=_jvOqXBIYOA&t=86s

Secara keilmuan, dengan nalar yang logis, bila COVID-19 ini merupakan kanker dalam kehidupan petani kecil dan buruh tani, pasti saja sudah didiagnosis pada stadium tinggi. Logikanya, ajal kehidupan mereka tinggal menunggu tarikan napas terakhir. Oleh karena mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk dapat mengakumulasi kapital, bahkan tabungan sekalipun. Namun realitasnya, mereka tidak memiliki syaraf putus asa. Betapa pun berat dampak COVID-19 ini ikut dirasakan oleh mereka, tetapi asap dapur mereka tetap bisa mengepul. Ekonomi rumah tangga mereka tetap berputar. Ternyata dalam rumah tangga petani kecil dan buruh tani, ada jaringan syaraf kehidupan yang mampu untuk memperbarui dirinya. Dalam konyungtur ekonomi menaik ataupun menurun. Begitulah, sudah dalam beberapa dekade tatanan kehidupan ekonomi mereka.

Selama masa Pandemi COVID-19, nyaris setiap saat teriakan pelaku ekonomi, termasuk yang berskala besar, untuk mendapatkan pemihakan kebijakan dan dukungan perhatian pemerintah, bisa disimak dari media massa. Tetapi nyaris pula tidak pernah terdengar ada teriakan petani kecil dan buruh tani. Padahal, dapat dikatakan bahwa ekonomi rumah tangga merekalah yang sedikit banyak berperan memutar roda perekonomian makro selama serangan COVID-19 ini. Wacana kebijakan ekonomi yang banyak dibahas masih saja dalam perspektif ingin menggerakkan perekonomian agar pada gilirannya bisa mendorong kembali pertumbuhan ekonomi. Bagaimana dan seperti apa nalar ekonominya dalam realitas seperti sekarang ini, di saat sisi supply terpuruk dan sisi demand terjungkal? Upaya yang paling logis adalah menata kembali usaha ekonomi yang ada selama ini, oleh pelakunya sendiri. Itupun nampaknya membutuhkan waktu dalam bilangan satu dua tahun, untuk bisa berpikir pertumbuhan, bila mampu. Tatanan kehidupan ekonomi saat ini dan ke depan, akan sangat lain pencerminannya. Ini yang terlebih dahulu harus dipetakan.

Dunia usaha berikut pelaku dan entitas bisnisnya, tidak seyogyanya berpikir untuk segera mendapat dukungan dari pemerintah saat ini. Oleh karena bisa saja berarti akan terjadi potential economic lost dalam masyarakat secara keseluruhan. Perhitungan-perhitungan keekonomian yang biasa digunakan selama ini, sudah banyak yang tidak valid lagi. Tidak mustahil institusi pendidikan ekonomi, keuangan dan bisnis perlu banyak merevisi baik cara pandang maupun wawasan praktikal dalam kehidupan ekonomi empirik yang telah diajarkan selama ini. Dunia ekonomi, disadari ataupun tidak, telah berubah secara mendasar dewasa ini. Sejumlah ahli sudah dengan fasihnya mengungkapkan cara pandang dan wawasannya, dan sangat menyarankan agar pelaku ekonomi sadar dan paham untuk beradaptasi dalam perubahan yang ada dan sementara berlangsung sekarang.

Justru pada saat yang sama, saat ini pusat perhatian sepatutnya ditujukan pada kegiatan ekonomi produktif apa yang masih berputar dan memiliki kapasitas suplai, di satu pihak, dan di pihak lain, bagaimana permintaan efektif atas barang dan jasa yang mampu dihasilkannya. Inilah tantangan namun sekaligus momentum peluang yang tersedia bagi penentu kebijakan dan pelaku ekonomi di wilayah Sulawesi Selatan saat ini. Bila menyimak kembali kondisi resesi ekonomi dan moneter akhir 1990an, sektor pertanian Sulawesi Selatan telah tampil perkasa, namun sayangnya motivasi pertumbuhan yang diwariskan oleh rezim Orde Baru tidak berkurang atau bahkan semakin menggebu-gebu dengan memilih komoditas pertanian andalan. Dalam realitasnya justru kurang memberi perhatian pada pelakunya. Pertumbuhan ekonomi di wilayah ini melaju, namun hanya lebih banyak dinikmati marjin ekonominya oleh pedagang perantara dan eksportir. Struktur perekonomian wilayah Sulawesi Selatan tidak semakin baik, senyatanya sektor industri pengolahan berbasis pertanian tidak berkembang. Pengalaman seperti ini sepatutnya tidak berulang kembali paska Pandemi COVID-19.

Suka atau tidak suka, hanya beberapa komoditas andalan Sulawesi Selatan yang memiliki struktur produksi yang handal, seperti padi, jagung dan rumput laut. Selebihnya, bila tetap ingin dipacu pengembangannya akan membutuhkan biaya yang tinggi, bahkan mungkin saja sudah tidak ekonomis lagi. Oleh karena itu, perhatian dan kebijakan yang berpihak pada rumah tangga produktif di sektor pertanian saat ini, nampaknya menjadi hal yang niscaya. Mencermati potensi permintaan efektif komoditas pertanian yang bisa dihasilkannya, domestik maupun ekspor, sudah memerlukan kerangka pengembangan serta agenda aksi yang sistematik dan terstruktur. Dalam pemilihan komoditas, penting sekali mencermati usaha pertanaman yang memang selama ini diakrabi oleh petani kecil dan buruh tani yang jumlahnya sangat banyak itu.

Dalam ungkapan dan pidato para pejabat di wilayah ini, masih selalu terdengar dan didengungkan bahwa wilayah ini berbasis pertanian. Data makro juga bisa membuktikan hal tersebut. Oleh karena itu inilah saatnya kita meletakkan kembali komoditas unggulan seperti sutera ke dalam pondasi ekonomi di Sulawesi Selatan.

 

Submission Agreement

Terimakasih atas  ketertarikan Anda untuk mengirimkan artikel ke BaKTINews. Dengan menyetujui pernyataan ini, Anda memberikan izin kepada BaKTINews untuk mengedit dan mempublikasikan artikel Anda di situs web dan situs afiliasinya, dan dalam bentuk publikasi lainnya.
Redaksi BaKTINews tidak memberikan imbalan kepada penulis untuk setiap artikel yang dimuat.  Redaksi akan mempromosikan artikel Anda melalui situs kami dan saluran media sosial kami.
Dengan mengirimkan artikel Anda ke BaKTINews dan menandatangani kesepakatan ini, Anda menegaskan bahwa artikel Anda adalah asli hasil karya Anda, bahwa Anda memiliki hak cipta atas artikel ini, bahwa tidak ada orang lain yang memiliki hak untuk ini, dan bahwa konten Artikel Anda tidak mencemarkan nama baik atau melanggar hak, hak cipta, merek dagang, privasi, atau reputasi pihak ketiga mana pun.

Anda menegaskan bahwa Anda setidaknya berusia 18 tahun dan kemampuan untuk masuk ke dalam kesepakatan ini, atau bahwa Anda adalah orang tua atau wali sah dari anak di bawah umur yang menyerahkan artikel.
 
Satu file saja.
batasnya 8 MB.
Jenis yang diizinkan: txt, rtf, pdf, doc, docx, odt, ppt, pptx, odp, xls, xlsx, ods.