Pengalaman Penuh Pengetahuan, Budaya dan Spiritual
  • Foto: Ester Elisabeth Umbu Tara / INSPIRASI
    Foto: Ester Elisabeth Umbu Tara / INSPIRASI

Menjadi salah satu peserta program INSPIRASI adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Dikemas dengan sangat baik, program ini memberi lebih dari yang dapat saya bayangkan. Bukan saja memperoleh pengetahuan baru terkait topik yang ingin saya pelajari.

Sebagai seorang campaigner pangan lokal, saya diberi kesempatan untuk mengunjungi komunitas-komunitas yang berfokus pada masalah pangan, seperti Papatuanuku kokiri marae yang mengembangkan pangan lokal dengan nilai-nilai Maori yang kuat. Mereka bukan sekedar menanam, namun juga mempertahankan budaya mereka dan menghubungkan satu kelompok masyarakat dengan lainnya serta mengembangkan kesejahteraan masyarakat melalui pangan organik yang mereka kembangkan.

Saya juga berkesempatan mengunjungi sebuah kafe bernama The Village untuk belajar bagaimana pangan lokal menjadi peluang usaha yang bagus namun sehat bagi masyarakat yang mengonsumsinya. Kafe ini didirikan atas dasar kepedulian beberapa orang yang ingin agar masyarakat memiliki pilihan makan sehat selain makanan cepat saji. Untuk mengetahui nilai-nilai gizi, saya berkesempatan mengikuti workshop yang di selenggarakan oleh Heart Foundation dan bertemu dengan orang-orang yang mendorong kemajuan komunitasnya melalui pangan.

Bukan hanya saya, teman-teman yang lain juga mendapat kesempatan yang sama. Sherly Anowali memiliki kesempatan untuk mengunjungi Shakti yang fokus di dalam memperjuangkan hak-hak wanita imigran. Tirsa Kailola mengunjungi sekolah-sekolah dan mempelajari kurikulum yang berbeda namun menarik untuk dipelajari dan dikembangkan sesuai konteks daerahnya.

Teman saya yang lain, Fauzan Ade Azizi, berkesempatan melihat beberapa kewirausahaan sosial dan belajar tentang keterlibatan masyarakat dengan disabilitas dalam dunia kerja. Rosa de Panda mengunjungi tempat di mana pemerintah mengelola sampah sementara Citra Al Rasyid mengunjungi beberapa pusat wisata di Auckland untuk belajar tentang ekowisata.

Andi Arifayani, teman saya dari Makassar, mengunjungi Shine dan belajar tentang penerapan kurikulum dalam mencegah kekerasan seksual terhadap anak, dan banyak komunitas lainnya yang kami kunjungi. Kegiatan kunjungan ini dilakukan setiap minggu untuk membantu kami menemukan ide-ide segar dan menginspirasi dalam mengerjakan proyek kami nanti di daerah masing-masing.

Isu dan topik kami sebagai penerima Program INSPIRASI yang berbeda-beda membuat kami mendapat pengetahuan yang beragam. Kami belajar banyak hal, mulai dari mengenal diri sendiri sebagai aset perubahan. Pada bagian ini kami berkesempatan untuk melihat diri sendiri sebagai aset yang berharga bagi organisasi kami, keluarga dan daerah kami dalam melakukan suatu perubahan. Dengan memulai dari diri kami sendiri memberi kami kekuatan dan kepercayaan diri untuk terus mengembangkan diri sebelum akhirnya kami kembali ke masyarakat sebagai agen perubahan. Kami juga mendapatkan sesi khusus untuk berdiskusi dan mendalami isu-isu gender, mulai dari hak-hak perempuan, bagaimana perkembangan kesetaraan gender di New Zealand dan Indonesia, undang-undang yang melindungi perempuan atau yang tidak sensitif gender dan sampai pada peran wanita di dalam menghadapi perubahan iklim. Semua ini penting karena di dalam proyek yang kami kerjakan haruslah proyek yang sensitif gender. Ternyata isu gender bukanlah masalah di permukaan saja, namun perkara yang lebih dalam dan bukan hal yang mudah. Walaupun demikian, dengan pemahaman dan penerapan yang tepat, persoalan gender dapat dihadapi dengan lebih baik di masa depan ketika lebih banyak pihak yang peduli.

Kami juga belajar tentang kewirausahaan sosial. Kami ditantang untuk mengindentifikasi ide-ide yang dapat menjadi peluang bagi organisasi kami masing-masing sehingga di masa depan tidak terbentur masalah pendanaan karena telah memiliki kapasitas kewirausahaan yang dibutuhkan.

Selain itu kami juga belajar tentang  peluang pariwisata dari bagi pengembangan suatu daerah. Dimulai dengan memilih salah satu tempat wisata dari daerah masing-masing dan diperkenalkan pada peserta lain, keuntungan dan juga dampak negatif yang di akibatkan oleh kehadiran tempat wisata tersebut. Aktivitas ini menolong kami menyadari bahwa tidak selamanya pariwisata berdampak positif. Kesiapan masyarakat yang ada di daerah wisata sangat penting sehingga wisata yang di bangun berdampak positif terus menerus tidak bersifat sementara. Selain itu, dalam sesi ini di bahas juga tentang bagaimana kuliner lokal dapat menjadi peluang bagi ekonomi masyarakat. Saya sangat tertarik dengan topik ini karena sesuai dengan apa yang ingin saya pelajari yaitu mengembangkan pangan lokal agar berdaya ekonomi bagi masyarakat dan petani yang selama ini di dampingi oleh Yayasan PIKUL.

Foto: Ester Elisabeth Umbu Tara / INSPIRASI
Foto: Ester Elisabeth Umbu Tara / INSPIRASI


Kesempatan lain yang kami peroleh yaitu mengunjungi parlemen New Zealand di Wellington dan merupakan pengalaman belajar tentang politik yang berkesan. Kami tidak hanya melihat secara langsung diskusi dan debat antara pemerintah dan partai oposisi, kami juga belajar dan melihat bagaimana sebuah usulan masyarakat dapat diproses menjadi sebuah peraturan.

Masyarakat ikut berpartisipasi aktif melalui petisi, usulan online maupun hadir langsung ke parlemen dan berdiskusi dengan anggota dewan lainnya. Dalam kesempatan ini kami juga mengunjungi beberapa anggota dewan yang merupakan pekerja sosial sebelumnya namun terjun ke dunia politik untuk membuat perubahan dari dalam pemerintahan.             Selain itu kami juga bertemu dengan beberapa menteri dan berdiskusi dan berbagi bersama. Sebelum ke parlemen kami dilengkapi dengan pengetahuan dasar mengenai politik di New Zealand dan bagaimana prosedur yang dilalui sehingga terpilihnya perdana menteri saat ini.

Kami juga belajar tentang gerakan-gerakan yang telah dilakukan oleh First Union dalam memperjuangkan hak-hak para pekerja, kami belajar tentang hak asasi manusia, di mana ada dua poin penting, yaitu pendekatan berbasis kebutuhan manusia (human based approach) atau pendekatan kepada hak seseorang sebagai manusia (right based approach). Kedua hal ini mendorong kami untuk melihat lebih jauh pihak-pihak yang kami dampingi untuk bekerjasama, mengidentifikasi kebutuhan sesungguhnya sehingga proyek yang akan dikerjakan menjadi efektif

Di hari terakhir di Wellington kami bertemu dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Selandia Baru, Bapak Tantowi Yahya. Kami berkesempatan memperkenalkan diri kami, organisasi tempat kami bekerja dan apa yang kami lakukan, dan memperkenalkan program INSPIRASI dan kembali menikmati makanan Indonesia yang jarang kami temukan di New Zealand  yaitu  bakso.

Foto: Ester Elisabeth Umbu Tara / INSPIRASI
Foto: Ester Elisabeth Umbu Tara / INSPIRASI


Perjalanan terakhir yang kami lakukan adalah perjalanan menuju East Cape New Zealand. Bagi saya ini adalah perjalanan budaya, spiritual dan wisata yang lengkap. Kami berkesempatan mengunjung Te Araroa, kami menginap di Marae, atau rumah yang sakral bagi komunitas Maori. Marae adalah tempat beraktifitas suku Maori, mulai dari perayaan ulang tahun hingga kematian, pertemuan-pertemuan hingga menerima tamu yang datang untuk belajar.

Semua ukiran, anyaman, dan lukisan-lukisan di dalam Marae adalah hasil refleksi mereka terhadap alam sekitar, nenek moyang dan juga Tuhan. Di sini kami berkesempatan berbagi dengan siswa-siswi di salah satu sekolah dimana kami memperkenalkan Indonesia dan berbagi mimpi. Kami juga mengunjungi kafe di East Cape, salah satu bisnis sosial yang mengembangkan usahanya dengan melihat pada asset yang dimiliki masyarakat sekitar sehingga membuka lapangan pekerjaan bagi mereka.

Kami belajar membuat sabun dari bahan-bahan alami dan membuat produk lainnya yang berasal dari alam sekitar, memasak bersama dan menikmatinya dengan komunitas. Kami juga mengunjungi beberapa pusat wisata di Rotorua, mulai dari yang gratis hingga yang berbayar untuk melihat bagaimana pengembangan dan pengelolaan wisata di tempat itu.


Tentang Program INSPIRASI

Program INSPIRASI (Indonesia Selandia Baru untuk Generasi Muda Inspiratif) adalah program belajar 6 bulan di Selandia Baru yang didukung oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia dan dikelola oleh UnionAID dengan dukungan dari New Zealand Ministry of Foreign Affairs and Trade (MFAT) dan bekerja sama dengan Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) dan Auckland University of  Technology (AUT) di Selandia Baru.

Submission Agreement

Terimakasih atas  ketertarikan Anda untuk mengirimkan artikel ke BaKTINews. Dengan menyetujui pernyataan ini, Anda memberikan izin kepada BaKTINews untuk mengedit dan mempublikasikan artikel Anda di situs web dan situs afiliasinya, dan dalam bentuk publikasi lainnya.
Redaksi BaKTINews tidak memberikan imbalan kepada penulis untuk setiap artikel yang dimuat.  Redaksi akan mempromosikan artikel Anda melalui situs kami dan saluran media sosial kami.
Dengan mengirimkan artikel Anda ke BaKTINews dan menandatangani kesepakatan ini, Anda menegaskan bahwa artikel Anda adalah asli hasil karya Anda, bahwa Anda memiliki hak cipta atas artikel ini, bahwa tidak ada orang lain yang memiliki hak untuk ini, dan bahwa konten Artikel Anda tidak mencemarkan nama baik atau melanggar hak, hak cipta, merek dagang, privasi, atau reputasi pihak ketiga mana pun.

Anda menegaskan bahwa Anda setidaknya berusia 18 tahun dan kemampuan untuk masuk ke dalam kesepakatan ini, atau bahwa Anda adalah orang tua atau wali sah dari anak di bawah umur yang menyerahkan artikel.
 
Satu file saja.
batasnya 32 MB.
Jenis yang diizinkan: txt, rtf, pdf, doc, docx, odt, ppt, pptx, odp, xls, xlsx, ods.