Pastor Vesto dan Perjuangannya untuk Orang Asmat (Bagian 1)
Penulis : Petrus Supardi
  • Pastor Vesto memberikan arahan pada pembukaan pelatihan kader pemberdayaan masyarakat kampung di Distrik Akat dan Atsu Kab. Asmat. <br> Foto: N.J. Tangkepayung/Yayasan BaKTI
    Pastor Vesto memberikan arahan pada pembukaan pelatihan kader pemberdayaan masyarakat kampung di Distrik Akat dan Atsu Kab. Asmat.
    Foto: N.J. Tangkepayung/Yayasan BaKTI

Manusia Asmat merupakan manusia seni. Seluruh hidup orang Asmat diwarnai pesta. Ada pesta pembangunan jew, pesta ulat sagu, pesta inisiasi dan lain-lain. Asmat juga terkenal dengan tarian dan ukiran yang memesona. Sebagai manusia seni, orang Asmat memiliki karakter unik. Maka, cara memahami orang Asmat membutuhkan seni tersendiri. Jika tidak memahami kebudayaan, adat dan kebiasaan hidup orang Asmat, maka hanya akan melahirkan stigma negatif.

Dalam kondisi orang Asmat yang memprihatinkan itulah Pastor Fransiskus Vesto Labi Maing, Pr, melayani umat Paroki St. Martinus de Pores Ayam, Distrik Akat. Ia berjalan dari kampung ke kampung untuk mengunjungi umat. Pada saat bertemu dengan umat, baik di rumah, di bivak maupun di jew, ia berusaha mendengarkan keluh kesah mereka. Ia tidak hanya mendengarkan, ia juga mengajak mereka untuk menjaga budaya dan adat, terutama jew.

“Saya pernah menangis, tatkala menyaksikan ada tua adat yang membawa masuk pedagang ke dalam jew untuk menggelar dagangannya. Saya panggil tua adat tersebut dan menegur dia. Sebab, jew itu tempat sakral. Orang Asmat sendiri harus menjaga kesakralan jew,” tutur imam Keuskupan Agats, yang biasa disapa Pastor Vesto ini.

Pastor Vesto memberikan perhatian serius terhadap budaya dan adat orang Asmat karena dirinya menyadari bahwa orang Asmat melekat pada adat dan budayanya. Apabila budaya dan adat rusak, maka jati diri dan masa depan orang Asmat terancam. Tindakan melindungi budaya dan adat orang Asmat dilakukannya dengan mengundang Komisi Kebudayaan Keuskupan Agats untuk memberikan penguatan terhadap para tokoh adat di Ayam, Distrik Akat.

Saya prihatin dengan budaya dan adat orang Asmat yang mulai pudar. Ada jew yang sudah sepi, tungku api tidak pernah menyala. Karena itu, tahun 2016 dan 2017, saya mengundang Bapa Emerikus Sarkol dan John Ohoiwirin dari Komisi Kebudayaan Keuskupan Agats, datang memberikan penguatan kepada para tokoh adat (wayir) di jew Jowes dan Cumnew,” tuturnya.

Penandatanganan MoU dengan KOMPAK dan Pemerintah Daerah Kabupaten Asmat
Penandatangan MoU antara KOMPAK dengan Pemerintah Kabupaten Asmat untuk pengembangan strategi pencegahan gizi buruk yang terintegrasi di Kabupaten Asmat
Foto: N.J. Tangkepayung


Pastor Vesto tidak hanya memperhatikan kebudayaan dan adat orang Asmat di Distrik Akat. Ia juga memberi perhatian serius pada dunia pendidikan, terutama pendidikan dasar. “Di pusat Distrik Akat, ini ada tiga SD yaitu SD YPPK St. Martinus de Pores Ayam, SD YPPGI Ayam dan SD Negeri Persiapan Cumnew dan satu TK di Jowes. Saya pergi ke sekolah-sekolah itu. Di gereja, saya umumkan kepada semua orang tua untuk perhatikan sekolah dan bawa anak-anak ke sekolah,” tegasnya.

Pastor Vesto tidak hanya bicara. Ia berjalan dari kampung ke kampung dan memastikan bahwa anak-anak ke sekolah.  Ia mengajak polisi dan Linmas yang ada di Ayam untuk mencari anak-anak dan bawa ke sekolah. Ia berkisah bahwa dirinya pernah mencari anak-anak sekolah sampai ke bivak-bivak. “Saya pergi ambil anak-anak sekolah di bivak, persis di pinggir kali. Orang tua membawa anak-anak itu saat mencari makanan di dusun. Saya pergi ambil itu anak-anak, kasih masuk di dalam long boat dan bawa pulang ke kampung Ayam supaya anak-anak bisa sekolah,” tuturnya.

Pastor Vesto menyadari bahwa saat ini pendidikan belum menjadi kebutuhan bagi orang Asmat. Ia tidak menyalahkan orang tua, karena kondisi alam Asmat telah membentuk karakter manusia Asmat yang unik. Saat ini, orang Asmat dengan mudah mengambil makanan di dusun. Semua tersedia di alam, tidak ada yang kurang. Karena itu, perlu pendekatan khusus untuk membangun kesadaran orang tua supaya mengantar anak-anak ke sekolah.

Selain pendidikan, Pastor Vesto selalu mengunjungi Puskesmas Ayam. Ia selalu memastikan bahwa ada petugas kesehatan di Puskesmas supaya kalau ada masyarakat yang sakit dan berobat ke Puskesmas dapat terlayani dengan baik. Meskipun di pusat distrik Akat, Puskesmas Ayam selalu buka, tetapi Pustu di kampung-kampung sering ditinggalkan oleh petugas kesehatan.

Ia juga berbagi pengalaman tentang kebiasaan orang Asmat memahami sakit. “Di Asmat ini, orang merasa sakit dan mau ke Puskesmas atau rumah sakit kalau sudah tidak bisa bangun dan tidak bisa jalan. Kalau sakit tetapi masih bisa bangun dan jalan, orang tidak mau pergi periksa ke Puskesmas. Karena itu, petugas kesehatan harus pro aktif mengunjungi warga dan tanya kondisi kesehatan mereka, tuturnya.

Berhadapan dengan kondisi orang Asmat yang unik itu, Pastor Vesto memiliki pendekatan pastoral khusus yaitu kunjungan langsung ke rumah-rumah atau jew. Ia berjalan mengelilingi lima kampung di pusat Distrik Akat yaitu, Waw Cesau, Ayam, Bayiw Pinam, Cumnew dan Jowes. Sedangkan enam kampung di luar Agats dilakukannya saat kunjungan pastoral.

Ia menjelaskan bahwa supaya bisa menyapa orang Asmat, setiap orang yang datang ke Asmat harus memiliki hati melayani, bukan memberikan stigma. Pelayanan paling utama adalah mengunjungi dan menyapa orang Asmat dalam cara hidup mereka. “Kalau mau tahu orang Asmat punya hidup harus kunjungi mereka. Harus sapa mereka. Harus datang ke rumah mereka. Harus masuk ke dalam jew,” tegasnya.

Pastor Vesto menuturkan bahwa dirinya selalu menyapa setiap pribadi yang dijumpainya pada saat berkeliling kampung. “Saya biasa pergi ke kampung-kampung. Saya masuk ke dalam jew dan bercerita dengan mereka. Jika kita sering bertemu, maka akan mempermudah dalam menjalin kerjasama dengan masyarakat karena sudah saling kenal.”

Dalam pergaulan dengan orang Asmat yang dilayaninya, Pastor Vesto juga belajar bahasa Asmat. Meskipun tidak lancar, tetapi ia sering menyapa menggunakan sapaan dalam bahasa Asmat sehingga menyentuh lubuk hati.

Di tengah berbagai keterbatasan biaya transportasi untuk melakukan kunjungan ke kampung-kampung di luar pusat Distrik Akat, Pastor Vesto tetap bersemangat. Dirinya yakin bahwa setiap pelayanan yang diberikan kepada masyarakat, Tuhan akan menolongnya. Keyakinannya pada pertolongan Tuhan membakar semangatnya melintasi setiap rintangan yang menghadang. Medan pastoral yang sulit serta karakter manusia Asmat yang unik memacu dirinya berinovasi.

Ia tidak tinggal saja di pastoran. Ia berkeliling memperhatikan kampung, sekolah dasar, Puskesmas Ayam dan memotivasi masyarakat membentuk kelompok tani. Dirinya tidak memiliki uang untuk membantu berbagai kekurangan yang ada di sekolah dasar, Puskesmas Ayam dan kampung-kampung di Distrik Akat. Semangatnya dalam menyapa setiap komunitas dan pribadi yang ditemuinya membuat dirinya dikenal luas di Distrik Akat, bahkan di Kabupaten Asmat.

Berpastoral Bersama LANDASAN

Awal Maret 2017, Pastor Vesto berjumpa dengan Koordinator LANDASAN Papua Kabupaten Asmat, Pit. Keduanya bercerita tentang proses pendampingan yang akan diberikan oleh LANDASAN Papua. Menurut Pit, LANDASAN Papua bekerja secara terintengrasi dengan kampung, sekolah dasar, Puskesmas, pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS. Pusat integrasi seluruh unit layanan terletak di distrik tetapi integrasi sebenarnya harus dimulai dari kampung.  (Bersambung)

Submission Agreement

Terimakasih atas  ketertarikan Anda untuk mengirimkan artikel ke BaKTINews. Dengan menyetujui pernyataan ini, Anda memberikan izin kepada BaKTINews untuk mengedit dan mempublikasikan artikel Anda di situs web dan situs afiliasinya, dan dalam bentuk publikasi lainnya.
Redaksi BaKTINews tidak memberikan imbalan kepada penulis untuk setiap artikel yang dimuat.  Redaksi akan mempromosikan artikel Anda melalui situs kami dan saluran media sosial kami.
Dengan mengirimkan artikel Anda ke BaKTINews dan menandatangani kesepakatan ini, Anda menegaskan bahwa artikel Anda adalah asli hasil karya Anda, bahwa Anda memiliki hak cipta atas artikel ini, bahwa tidak ada orang lain yang memiliki hak untuk ini, dan bahwa konten Artikel Anda tidak mencemarkan nama baik atau melanggar hak, hak cipta, merek dagang, privasi, atau reputasi pihak ketiga mana pun.

Anda menegaskan bahwa Anda setidaknya berusia 18 tahun dan kemampuan untuk masuk ke dalam kesepakatan ini, atau bahwa Anda adalah orang tua atau wali sah dari anak di bawah umur yang menyerahkan artikel.
 
Satu file saja.
batasnya 32 MB.
Jenis yang diizinkan: txt, rtf, pdf, doc, docx, odt, ppt, pptx, odp, xls, xlsx, ods.