Meletakkan Kembali Pondasi Ekonomi Sulawesi Selatan
  • Foto: Yusuf Ahmad/Yayasan BaKTI
    Foto: Yusuf Ahmad/Yayasan BaKTI

Saat perekonomian nasional dan wilayah di tanah air menikmati surplus melalui marjin keuntungan selama pertumbuhan ekonomi, petani kecil dan buruh tani nyaris tidak memperoleh tetesan ke bawah secara berarti. Kehidupan mereka tetap pada batas tertinggi tingkat subsistem. Data Susenas yang setiap tahun dirilis menunjukkan petani kecil dan buruh tani secara laten tergolong ke dalam kelompok pendapatan 40 persen terbawah. Dalam kelompok pendapatan ini, mereka tergolong mayoritas, berdampingan dengan kaum marjinal yang hidup di daerah perkotaan. Di saat COVID-19 yang menyebar cepat, mereka ini sudah lama terjerambab lalu kemudian tentu saja semakin terhimpit. 

Secara keilmuan, dengan nalar yang logis, bila COVID-19 ini merupakan kanker dalam kehidupan petani kecil dan buruh tani, pasti saja sudah didiagnosis pada stadium tinggi. Logikanya, ajal kehidupan mereka tinggal menunggu tarikan nafas terakhir. Oleh karena mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk dapat mengakumulasi kapital, bahkan tabungan sekalipun. Namun realitasnya, mereka tidak memiliki syaraf putus asa. Betapa pun berat dampak COVID-19 ini ikut dirasakan oleh mereka, tetapi asap dapur mereka tetap bisa mengepul. Ekonomi rumah tangga mereka tetap berputar. Ternyata dalam rumah tangga petani kecil dan buruh tani, ada jaringan syaraf kehidupan yang mampu untuk memperbaharui dirinya. Dalam konyungtur ekonomi menaik ataupun menurun. Begitulah, sudah dalam beberapa dekade tatanan kehidupan ekonomi mereka.

Selama masa Pandemi COVID-19, nyaris setiap saat teriakan pelaku ekonomi, termasuk yang berskala besar, untuk mendapatkan pemihakan kebijakan dan dukungan perhatian pemerintah, bisa disimak dari media massa. Tetapi nyaris pula tidak pernah terdengar ada teriakan petani kecil dan buruh tani. Padahal, dapat dikatakan bahwa ekonomi rumah tangga merekalah yang sedikit banyak berperan memutar roda perekonomian makro selama serangan COVID-19 ini. Wacana kebijakan ekonomi yang banyak dibahas masih saja dalam perspektif ingin menggerakkan perekonomian agar pada gilirannya bisa mendorong kembali pertumbuhan ekonomi. Bagaimana dan seperti apa nalar ekonominya dalam realitas seperti sekarang ini, di saat sisi supply terpuruk dan sisi demand terjungkal? Upaya yang paling logis adalah menata kembali usaha ekonomi yang ada selama ini, oleh pelakunya sendiri. Itupun nampaknya membutuhkan waktu dalam bilangan satu dua tahun, untuk bisa berpikir pertumbuhan, bila mampu. Tatanan kehidupan ekonomi saat ini dan ke depan, akan sangat lain pencerminannya. Ini yang terlebih dahulu harus dipetakan.

Dunia usaha berikut pelaku dan entitas bisnisnya, tidak seyogyanya berpikir untuk segera mendapat dukungan dari pemerintah saat ini. Oleh karena bisa saja berarti akan terjadi potential economic lost dalam masyarakat secara keseluruhan. Perhitungan-perhitungan keekonomian yang biasa digunakan selama ini, sudah banyak yang tidak valid lagi. Tidak mustahil institusi pendidikan ekonomi, keuangan dan bisnis perlu banyak merevisi baik cara pandang maupun wawasan praktikal dalam kehidupan ekonomi empirik yang telah diajarkan selama ini. Dunia ekonomi, disadari ataupun tidak, telah berubah secara mendasar dewasa ini. Sejumlah ahli sudah dengan fasihnya mengungkapkan cara pandang dan wawasannya, dan sangat menyarankan agar pelaku ekonomi sadar dan paham untuk beradaptasi dalam perubahan yang ada dan sementara berlangsung sekarang.

Justru pada saat yang sama, saat ini pusat perhatian sepatutnya ditujukan pada kegiatan ekonomi produktif apa yang masih berputar dan memiliki kapasitas suplai, di satu pihak, dan di pihak lain, bagaimana permintaan efektif atas barang dan jasa yang mampu dihasilkannya. Inilah tantangan namun sekaligus momentum peluang yang tersedia bagi penentu kebijakan dan pelaku ekonomi di wilayah Sulawesi Selatan saat ini. Bila menyimak kembali kondisi resesi ekonomi dan moneter akhir 1990an, sektor pertanian Sulawesi Selatan telah tampil perkasa, namun sayangnya motivasi pertumbuhan yang diwariskan oleh rezim Orde Baru tidak berkurang atau bahkan semakin menggebu-gebu dengan memilih komoditas pertanian andalan. Dalam realitasnya justru kurang memberi perhatian pada pelakunya. Pertumbuhan ekonomi di wilayah ini melaju, namun hanya lebih banyak dinikmati marjin ekonominya oleh pedagang perantara dan eksportir. Struktur perekonomian wilayah Sulawesi Selatan tidak semakin baik, senyatanya sektor industri pengolahan berbasis pertanian tidak berkembang. Pengalaman seperti ini sepatutnya tidak berulang kembali paska Pandemi COVID-19.

Suka atau tidak suka, hanya beberapa komoditas andalan Sulawesi Selatan yang memiliki struktur produksi yang handal, seperti padi, jagung dan rumput laut. Selebihnya, bila tetap ingin dipacu pengembangannya akan sangat costly, bahkan mungkin saja sudah tidak ekonomis lagi. Oleh karena itu, perhatian dan kebijakan yang berpihak pada rumah tangga produktif di sektor pertanian saat ini, nampaknya menjadi hal yang niscaya. Mencermati potensi permintaan efektif komoditas pertanian yang bisa dihasilkannya, domestik maupun ekspor, sudah memerlukan kerangka pengembangan serta agenda aksi yang sistematik dan terstruktur. Dalam pemilihan komoditas, penting sekali mencermati usaha pertanaman yang memang selama ini diakrabi oleh petani kecil dan buruh tani yang jumlahnya sangat banyak itu. 

Catatan kakinya adalah jangan berpikir upaya pengembangan pertanaman rumah tangga produktif secara individual untuk bisa mencapai skala ekonomi. Oleh karena lahan yang mereka miliki dan kuasai sangat terbatas luasnya, kurang dari setengah hektar. Mau atau tidak mau, hanya dengan konsep hamparan, pada setiap pertanamanlah yang akan memungkinkan mereka untuk dapat mencapai skala ekonomi. Sebuah konsep berpikir yang sudah sangat lama dikenal di wilayah ini. Konon dewasa ini bisa berhasil maksimal dan prospektif diaplikasikan di Provinsi Jawa Timur.

Dalam ungkapan dan pidato para pejabat di wilayah ini, masih selalu terdengar dan didengungkan bahwa wilayah ini berbasis pertanian. Data makro juga bisa membuktikan hal tersebut. Yang menjadi persoalan adalah siapa saja yang menikmati marjin ekonomi yang tercipta pada sektor pertanian Sulawesi Selatan? Oleh karena itu saat inilah, sambil berharap masa Pandemi COVID-19 bisa segera dilalui, saatnya untuk meletakkan kembali pondasi ekonomi di Sulawesi Selatan. Dengan  menjadikan petani Sulawesi Selatan, terutama para petani kecil dan buruh tani dapat meningkat kedaulatan ekonominya. 

Submission Agreement

Terimakasih atas  ketertarikan Anda untuk mengirimkan artikel ke BaKTINews. Dengan menyetujui pernyataan ini, Anda memberikan izin kepada BaKTINews untuk mengedit dan mempublikasikan artikel Anda di situs web dan situs afiliasinya, dan dalam bentuk publikasi lainnya.
Redaksi BaKTINews tidak memberikan imbalan kepada penulis untuk setiap artikel yang dimuat.  Redaksi akan mempromosikan artikel Anda melalui situs kami dan saluran media sosial kami.
Dengan mengirimkan artikel Anda ke BaKTINews dan menandatangani kesepakatan ini, Anda menegaskan bahwa artikel Anda adalah asli hasil karya Anda, bahwa Anda memiliki hak cipta atas artikel ini, bahwa tidak ada orang lain yang memiliki hak untuk ini, dan bahwa konten Artikel Anda tidak mencemarkan nama baik atau melanggar hak, hak cipta, merek dagang, privasi, atau reputasi pihak ketiga mana pun.

Anda menegaskan bahwa Anda setidaknya berusia 18 tahun dan kemampuan untuk masuk ke dalam kesepakatan ini, atau bahwa Anda adalah orang tua atau wali sah dari anak di bawah umur yang menyerahkan artikel.
 
Satu file saja.
batasnya 32 MB.
Jenis yang diizinkan: txt, rtf, pdf, doc, docx, odt, ppt, pptx, odp, xls, xlsx, ods.