Kolintang Dari Musik Ritual Hingga Panggung Festival (Bagian 2 - Selesai)
Penulis : Rikson Karundeng
  • Foto: Joudy M. (www.flickr.com/photos/61373150@N00)
    Foto: Joudy M. (www.flickr.com/photos/61373150@N00)

Kolintang, alat musik khas Minahasa telah ada sejak zaman leluhur, tetap menjadi bagian dalam budaya masyarakat Minahasa hingga kini

Kolintang, alat musik khas dari Minahasa, Sulawesi Utara. Akrab di tanah kelahirannya dan terkenal di berbagai daerah di Indonesia, bahkan sampai ke mancanegara. Zaman terus berubah dengan tantangannya masing-masing namun musik kolintang terbukti masih tetap eksis. Tak bisa dipungkiri, musik yang telah berevolusi dalam jalan waktu ini sering mengalami pasang surut di tengah pergulatan zaman. Adrie Fredie Elean, salah seorang pencinta musik kolintang, punya kisah sendiri soal itu. Kepada saya, ia menuturkan tentang berbagai kisah terkait eksistensi musik kolintang dalam tantangan zaman.

Kenangan dan Mimpi Seorang Pencinta Musik Kolintang
Adrie Elean adalah tou (orang/manusia) Minahasa yang telah mengenal dan ikut bermain kolintang sejak kanak-kanak. Bahkan sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia telah memiliki kemampuan untuk membuat seperangkat alat musik kolintang. Di usia remaja ini, dia sangat dikenal karena kemampuannya bermain melodi yang luar biasa. Bagi para seniornya, ia merupakan pemain melodi yang memiliki karakter tersendiri. Tidak mengherankan jika sejak usia remaja ia telah malang-melintang dalam berbagai event  musik kolintang.

“Deri tahun tujuh puluh kita kwa so bermain di banya grup kolintang bahkan jadi pelatih di berbagai grup, baik di Tondano maupun di tampa-tampa laeng di Minahasa. Cuma sebelum taong tuju tiga kwa masih orkes kolintang. Nanti taong selanjutnya tu kolintang melulu so top di iven-iven. Kita pe grup pertama Esa Rendem di Kuramber Tondano. Torang sering juara. Waktu itu satu Minahasa kenal pa torang. Dari taong tuju ampa sampe akhir taong tuju puluh, nda ada yang ja dapa se kalah pa torang. Samua piala bergilir, bae tingat Minahasa sampe Sulut, mati pa torang,” kenang Elean yang sejak dulu ternyata selalu dipercayakan grupnya untuk memegang melodi.

Ia menuturkan, tahun 1976 pernah ada  event  tingkat nasional yang diselenggarakan Taman Budaya di Tikala Manado. Grup-grup kolintang se-Indonesia yang berjumlah 40-an, ikut ambil bagian. Grup Mawenang dari Jakarta ternyata menjadi juara saat itu, sementara ia dan grupnya hanya menempati posisi kedua. Selesai event  tersebut, ia dan ketiga temannya diajak untuk masuk dapur rekaman di Jakarta.

“Kita, Fani Lesar, Roy Surentu deng Roby Waney, dorang ajak ka Jakarta mar cuma kita tu nda pigi. Soalnya waktu itu kita masih ta ika kontrak deng banya instansi sama deng BRI, Pengadilan, Kejaksaan, LP (Lembaga Pemasyarakatan), deng banya grup laeng. Tu Rudy, abis deri Jakarta dorang langsung pangge ka Surabaya. So dia tu jadi pelatih grup-grup di sana kemudian. Roy Surentu masih eksis jadi pelatih di skolah-skolah skarang. Kalu tu Fani Lesar, kita baru baku dapa waktu Institut Seni Budaya Sulawesi Utara deng Pa' Benny Mamoto beking Guinness World Records taong dua ribu spuluh. Dia waktu itu jadi ketua tim juri di lomba. Taong tujuh lima kita lei Om Evert Langkay tu tokoh KRIS pernah pangge mo rekaman di Jakarta mar karna masih baya kontrak, nda ta pigi lei,” kenangnya.

Elean mengatakan, ada beberapa hal yang sangat berkesan dalam memorinya saat bermain musik kolintang. Di antaranya ketika ia diundang untuk jadi pemain melodi saat artis terkenal Rima Melati menyanyi di Hotel Ricardo Winangun. Selain itu, ia pernah ditunjuk menjadi pelatih sekaligus pemain melodi anak-anak Panti Asuhan Nazareth pada tahun 1976. Saat itu mereka tampil di hadapan Presiden Marcos dari Filipina yang berkunjung ke Manado. Marcos ternyata sangat terpukau saat ia dan salah seorang anak panti asuhan memainkan berbagai instrumen dengan melodi kolintang sambil menutup mata.

Gempuran budaya pop ternyata cukup menggeser musik kolintang. Menurut Elean, tahun 1980-an, anak-anak muda lebih gemar ke disko dan event-event musik kolintang berkurang. Belakangan kolintang bahkan sudah tergantikan organ tunggal (digital).

“Dulu, tiap acara ato pesta ada kolintang. Anak-anak suka ba kumpul di tampa latihan. Jadi, kalu nda main kolintang berarti nda gaul. Mar deri taong lapang puluh samua berobah drastis. Taong tujuh puluhan, kalu ja lomba ja sampe lapang puluh grup. Taong lapang puluhan, pembinaan so kurang, kong tu perhatian banya pihak lei so menurun,” ujar pria yang banyak melatih generasi muda hingga di kemudian hari menjadi pelatih sejumlah grup kolintang.

Adrie Elean barangkali bukan seorang yang terkenal atau pun populer di dunia kolintang namun bukan berarti dia tak memiliki jasa sedikit pun di dunia kolintang. Di balik pribadi yang pemalu dan kehidupannya yang sederhana itu, ternyata tersimpan sebuah mimpi yang besar bagi musik kolintang.

“Kolintang itu identitas tou Minahasa, jadi dia musti trus ada. Tu urgen saat ini barangkali tu soal pembinaan. Iven itu penting mar pembinaan berkelanjutan tantu harus diutamakan. Di tiap-tiap wanua (desa) musti ada tampa pembinaan, bukang cuma di skolah-skolah. Itu samua boleh mo jalan kalu pemerhati seni deng budaya, pamarentah deng samua tou Minahasa di mana saja, boleh saling baku tongka mo perhatikan ini Kolintang”. (Selesai)

Tulisan bersumber dari kelung.com dan dapat dibaca pada link https://kelung.com/kolintang-dari-musik-ritual-hingga-panggung-festival/

Submission Agreement

Terimakasih atas  ketertarikan Anda untuk mengirimkan artikel ke BaKTINews. Dengan menyetujui pernyataan ini, Anda memberikan izin kepada BaKTINews untuk mengedit dan mempublikasikan artikel Anda di situs web dan situs afiliasinya, dan dalam bentuk publikasi lainnya.
Redaksi BaKTINews tidak memberikan imbalan kepada penulis untuk setiap artikel yang dimuat.  Redaksi akan mempromosikan artikel Anda melalui situs kami dan saluran media sosial kami.
Dengan mengirimkan artikel Anda ke BaKTINews dan menandatangani kesepakatan ini, Anda menegaskan bahwa artikel Anda adalah asli hasil karya Anda, bahwa Anda memiliki hak cipta atas artikel ini, bahwa tidak ada orang lain yang memiliki hak untuk ini, dan bahwa konten Artikel Anda tidak mencemarkan nama baik atau melanggar hak, hak cipta, merek dagang, privasi, atau reputasi pihak ketiga mana pun.

Anda menegaskan bahwa Anda setidaknya berusia 18 tahun dan kemampuan untuk masuk ke dalam kesepakatan ini, atau bahwa Anda adalah orang tua atau wali sah dari anak di bawah umur yang menyerahkan artikel.
 
Satu file saja.
batasnya 32 MB.
Jenis yang diizinkan: txt, rtf, pdf, doc, docx, odt, ppt, pptx, odp, xls, xlsx, ods.