Geng Motor yang Membantu Petani dan Peternak Flobamora
Penulis : Sumarni Arianto
  • Dok. Geng Motor IMuT
    Dok. Geng Motor IMuT

Mendengar nama geng motor kita langsung membayangkan sekelompok orang dengan motor berkonvoi dengan suara knalpot memekakkan telinga. Tidak jarang kita mendengar kabar kalau mereka sering berulah dengan berbuat keributan.

Di Kupang, Nusa Tenggara Timur ada geng  motor dengan nama yang terbilang unik, Geng Motor Imut (GMI). Imut merupakan singkatan dari Inovasi, Mobilisasi untuk Transformasi. Namanya boleh terkesan unik, namun apa yang dikerjakan geng motor ini sungguh mulia. Mulia karena aktivitasnya membantu para petani peternak dan warga di Nusa Tenggara Timur. 

GMI berdiri pada tahun 2005 dengan anggota 15 orang yang rata-rata lulusan Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana, Kupang.  Diawali dengan kegelisahan karena pekerjaan tidak sesuai dengan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah, geng motor ini kemudian berkeliling membagikan ilmu pertanian dan peternakan yang dimiliki.
Di tahun 2010 GMI berkenalan dengan sebuah metode baru yakni asset based. Asset based adalah sebuah metode yang mengenali potensi -bukan masalah- ketika akan melakukan kegiatan. Kini komunitas ini memiliki anggota sekitar 1000 orang dari berbagai kalangan dan disiplin ilmu kegiatan. 
GMI memberi penyuluhan kepada para petani dan peternak serta mengembangkan teknologi tepat guna yang berguna bagi warga. Contoh produk teknologi tepat guna yang dihasilkan adalah desalinator yang mampu mengubah air asin menjadi air tawar, briket arang, biogas dan kompor biomassa. 

Foto: Dok. Geng Motor IMuT

Sejak tahun 2010 sampai dengan 2012 gerakan GMI sifatnya sporadis. Mereka berkunjung ke desa-desa. Setelah tahun 2010, GMI merevieu kegiatan yang telah dilaksanakan sebelumnya. Hasil revieu menunjukkan bahwa jika kegiatan bersifat sporadis sulit mengukur dampak yang diperoleh terhadap masyarakat. Olehnya mereka memutuskan berkegiatan di satu tempat agar berkelanjutan dan bisa mengukur dampaknya.

Lalu bersama 9 organisasi masyarakat sipil dan entitas usaha menengah yaitu: Perkumpulan Pikul, CIS Timor, Komunitas Kupang Batanam, Komunitas Tani Organik Dalen Mesa, Perkumpulan Tafena Tabua, OCD Beach and Cafe, Yayasan Alfa Omega, dan Yayasan Cemara bersama-sama menyelenggarakan program Ketahanan Sosial Ekologi di pulau kecil yakni Pulau Semau. Program ini merupakan program yang didukung oleh Global Environmental Facilities-Small Grant Program (GEF-SGP) Indonesia fase ke VI. Pulau Semau sendiri adalah pulau kecil di seberang Kota Kupang. Kondisi tanah berkarang dengan air tanah terbatas. Daratannya didominasi batu ketimbang tanah namun 60% kebutuhan kota Kupang akan sayur, ikan, bawang disuplai dari Semau. Mata pencaharian utama penduduk Semau adalah bertani.

Tujuan utama program Ketahanan Sosial Ekologis di Pulau Semau adalah membangun resiliensi masyarakat dan alam melalui praktik-praktik penghidupan dan konservasi yang berkelanjutan yang tahan terhadap dampak perubahan iklim.
Berbagai kegiatan yang dilakukan melalui program ini diantaranya pengembangan pertanian organik, pengembangan agrosilvo-pastoral dan agroforestri, konservasi daratan dan pesisir untuk ketahanan air dan pangan, pengembangan sumber dan produk pangan lokal, serta ekowisata berbasis masyarakat, percontohan penggunaan energi terbarukan.
Kerja dampingan GMI di Semau terbagi dalam 2 tahap yaitu:

1.    Tahun 2014 sampai 2016 dengan kegiatan Pertanian Selaras Alam Berbasis Masyarakat (PSABM)
2.    Tahun 2018 sampai 2020 dengan kegiatan MENANG SEMAU (komunitas Semau merawat keseimbangan dan keberlanjutan lingkungan, sosial dan ekonomi pulau)

Di tahap pertama GMI mendampingi 5 desa di 2 kecamatan. 4 desa di kecamatan Semau Selatan, dan 1 desa di kecamatan Semau. Di tahap kedua, juga di 5 desa  yaitu 2 desa di kecamatan Semau Selatan dan 3 desa di kecamatan Semau.
Sejak awal berkegiatan di Semau tahun 2014, GMI dan warga setempat bekerjasama untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertaniannya terutama bawang dan sayur bayam, di tengah tantangan kurangnya air dan pengetahuan.

Kegiatan pertama yang dilakukan saat tiba di Semau sama dengan kegiatan GMI di tempat lain yakni mengajak masyarakat untuk kembali ke sistem pertanian yang aman bagi manusia dan lingkungan. Misalnya mengajak petani mulai beralih dari pupuk kimia ke pupuk alami dengan pendekatan asset based yakni memanfaatkan potensi yang ada di Semau yaitu kotoran ternak. 

Tantangannya kemudian adalah -khususnya untuk petani bawang- bahwa dalam proses penyiraman mereka masih manual menggunakan air dari ember yang dipikul dan disiram berkeliling kebun. Ukuran bedengan bawang kurang lebih 1,5 x 30 m. Biasanya mereka menghabiskan waktu 10 jam sehari hanya untuk melakukan penyiraman sehingga mereka tidak ada waktu lagi untuk mengumpulkan kotoran ternak sebagai bahan pembuatan pupuk alami.

Olehnya GMI kemudian memperkenalkan teknologi penyiraman sederhana berupa sistem pipa yang menyemprot sendiri ke tanaman jika kran dibuka, dan ini efektif mengurangi waktu kerja petani.

Dampak sesudah sistem ini diperkenalkan adalah masyarakat merasa terbantu, dari sisi waktu dan ekonomi. Kualitas bawang yang dihasilkan dengan pupuk kimia dan organik pun berbeda. Misalnya pada persentase penyusutan, jika menggunakan pupuk kimia dalam waktu 3 bulan maka 100 kg bawang yang disimpan akan menyusut 75% sedangkan dengan pupuk organik hanya 20-30% berkurang.

Rencana ke depan, GMI masih akan tetap fokus di Semau. Kegiatan yang akan terus dikembangkan adalah pembuatan kompor biomassa agar masyarakat tidak menebang pohon lagi untuk dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Konsep yang diperkenalkan juga adalah menanam ¼ lahan kepemilikan dengan berbagai jenis pohon serta mengedukasi warga untuk memanfaatkan hasil hutan bukan kayu seperti madu. Caranya dengan mengajak kolega yang berpengalaman beternak madu dan memperkenalkannya ke warga Semau. Tujuannya dengan mereka beternak madu mereka akan terus menanam pohon untuk pakan dan sarang madu sehingga lingkungan tetap terjaga.

Meski konsentrasi kegiatan mereka di pulau Semau, di usianya yang menginjak 15 tahun sejumlah kegiatan terus berjalan di wilayah lain di Nusa Tenggara Timur. Anggota GMI tersebar hampir di 11 pulau dan 10 kabupaten di Kupang. Jumlah anggota semakin banyak karena setiap tempat yang mereka kunjungi otomatis menjadi anggota. Geng motor imut sering diundang ke sejumlah kampus untuk berbagi kegiatan kebaikan yang mereka lakukan. Mereka juga bekerja sama dengan komunitas Literasi di NTTdalam membantu pengadaan buku.
Sejak awal misi geng motor ini adalah berbagi sebelum ajal, maka Geng Motor Imut akan terus berkelana untuk berbagi ilmu dan pengetahuannya dengan tetap terbuka untuk berkolaborasi demi mencapai kesejahteraan para petani dan peternak di bumi Flobamora dan secara luas untuk Indonesia.

Jika ingin mengetahui lebih lanjut mengenai inisiatif ini sila menghubungi Geng Motor Imut di: gengmotor.imu.ntt@gmail.com
 

Submission Agreement

Terimakasih atas  ketertarikan Anda untuk mengirimkan artikel ke BaKTINews. Dengan menyetujui pernyataan ini, Anda memberikan izin kepada BaKTINews untuk mengedit dan mempublikasikan artikel Anda di situs web dan situs afiliasinya, dan dalam bentuk publikasi lainnya.
Redaksi BaKTINews tidak memberikan imbalan kepada penulis untuk setiap artikel yang dimuat.  Redaksi akan mempromosikan artikel Anda melalui situs kami dan saluran media sosial kami.
Dengan mengirimkan artikel Anda ke BaKTINews dan menandatangani kesepakatan ini, Anda menegaskan bahwa artikel Anda adalah asli hasil karya Anda, bahwa Anda memiliki hak cipta atas artikel ini, bahwa tidak ada orang lain yang memiliki hak untuk ini, dan bahwa konten Artikel Anda tidak mencemarkan nama baik atau melanggar hak, hak cipta, merek dagang, privasi, atau reputasi pihak ketiga mana pun.

Anda menegaskan bahwa Anda setidaknya berusia 18 tahun dan kemampuan untuk masuk ke dalam kesepakatan ini, atau bahwa Anda adalah orang tua atau wali sah dari anak di bawah umur yang menyerahkan artikel.
 
Satu file saja.
batasnya 8 MB.
Jenis yang diizinkan: txt, rtf, pdf, doc, docx, odt, ppt, pptx, odp, xls, xlsx, ods.