Tekad, Wujudkan Sekolah INKLUSI
Penulis : Sumarni Arianto

Pendidikan inklusi adalah penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesamaan akses dan kesempatan kepada semua peserta didik untuk mendapatkan haknya dalam pendidikan. Definisi tersebut sejalan dengan Pasal 31 ayat 1 Undang-undang Dasar (UUD) 1945 yang menjelaskan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan inklusi bertujuan untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang inklusif. Salah satu caranya yaitu dengan menyelenggarakan sekolah yang menerapkan sistem pendidikan inklusi.
Selain itu, belum meratanya penyelenggaran sistem pendidikan yang inklusi membuat minimnya jumlah anak dengan disabilitas yang dapat mengakses layanan Pendidikan Inklusi. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2017, hanya sebesar 18% dari total jumlah 1,6 juta anak dengan disabilitas yang telah memperoleh layanan Pendidikan Inklusi di Indonesia. Sementara itu pada tahun 2021 data dari Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Kemendikbud menjelaskan bahwa terdapat 3.502 sekolah inklusi dengan jumlah 127.541 peserta didik berkebutuhan khusus yang tersebar di 34 provinsi. Namun jumlah SDM Guru Pembimbing Khusus (GPK) tidak sebanding dengan jumlah sekolah dan peserta didik berkebutuhan khusus. Melihat adanya permasalahan dan kebutuhan ini, SD Inpres Maccini Baru sejak tahun 2016 membuka akses untuk anak disabilitas untuk memperoleh layanan pendidikan dasar.

Pada edisi 17 April 2023, event diskusi Instagram Live BaKTI menghadirkan ibu Risnawati Majit,S.Pd.,M.Pd sebagai narasumber. Ia adalah Kepala Sekolah SD Inpres Maccini Baru, salah satu sekolah negeri di Kota Makassar yang menerapkan Pendidikan Inklusi. Dalam bingkai inovasi TEKAD (Tingkatkan Kemandirian Anak Disabilitas), sekolah ini memberi akses dan ruang layak bagi anak disabilitas untuk menerima layanan pendidikan yang setara namun tetap memperhatikan kebutuhan spesifik mereka. Penyediaan fasilitas berupa ruang terapi, Guru Pendamping Khusus (GPK) dan lingkungan yang menerima Anak Disabilitas (AD) menjadikan sekolah ini ramah dan memberikan akses ke penyandang disabilitas khususnya anak disabilitas.

TEKAD adalah singkatan dari tingkatkan edukasi kemandirian anak disabilitas. TEKAD merupakan inovasi yang telah dilaksanakan di SD Inpres Maccini Baru dalam memberikan layanan yang sesuai bagi semua anak terutama anak disabilitas demi terselenggaranya pendidikan inklusif. Adapun tujuan TEKAD yaitu untuk meningkatkan kemandirian anak disabilitas yang dapat berdampak pada kecerdasan intelektualnya. 

SD Inpres Maccini baru merupakan Sekolah Dasar reguler yang melaksanakan proses pendidikan seperti sekolah dasar umumnya. Setelah dikeluarkan Permendiknas Nomor 70 tahun 2009 tentang pendidikan inklusif maka sekolah ini mulai menerima anak disabilitas belajar bersama dengan peserta didik lainnya. Ibu Risnawati, menjabat sebagai kepala sekolah SD Maccini Baru sejak tahun 2019. Ia melanjutkan pilot project (proyek percobaan) terkait sekolah inklusi dari kepala sekolah sebelumnya yang memulai program ini sejak tahun 2013. Di awal mulai diterapkan, jumlah anak disabilitasnya baru 8 orang yang terdiri dari 3 laki-laki dan 5 perempuan serta 3 guru pembimbing khusus atau yang lebih dikenal dengan GPK.

Pada tahun 2017 gubernur Sulawesi Selatan mencanangkan Sulawesi Selatan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan inklusif di Indonesia timur dengan menunjuk SD Inpres Maccini Baru sebagai salah satu pilot project.  Adapun kategori anak disabilitas yang diterima di sekolah yang terletak di pinggir kota Makassar ini adalah kategori anak disabilitas ringan hingga sedang dimana indikatornya adalah mampu didik dan dilatih, ingin bersekolah di sekolah umum baik melalui proses penerimaan siswa baru jalur inklusi maupun pindahan dari sekolah reguler atau SLB (Sekolah Luar Biasa).  Agar anak disabilitas dapat dilayani sesuai kebutuhannya maka sekolah merekrut guru pembimbing khusus yang berlatar belakang pendidikan luar biasa atau PLB.
Motivasi ibu Risna melanjutkan program sekolah ramah anak disabilitas didasarkan pada kondisi dimana jumlah anak disabilitas berdasarkan data pokok pendidikan atau Dapodik -sudah dipadankan dengan data Dukcapil- yakni terdapat 1.273 anak yang terdiri dari siswa SDLB sebanyak 779, SMPLB  306 dan SMA LB ada 188 murid. Belum lagi usia 4 sampai 18 tahun yang termasuk dalam penduduk disabilitas yang berpartisipasi dalam pendidikan khusus belum terserap optimal sementara sekolah luar biasa negeri yang ada di kota Makassar hanya dua, tentu memiliki daya tampung yang sangat terbatas akibatnya masih ada anak disabilitas yang tidak dapat mengakses layanan pendidikan.

Meski aturan sudah ada, namun belum semua sekolah menerapkan program sekolah inklusi. Hal ini tentunya kembali lagi pada komitmen dan kemampuan sekolah itu sendiri. Termasuk SD Maccini Baru sendiri yang di awal penerapannya menghadapi beberapa tantangan seperti terbatasnya guru pembimbing khusus dalam membantu anak disabilitas mengikuti kegiatan pembelajaran, terbatasnya sarana dan prasarana yang mudah diakses dan ramah terhadap semua anak termasuk anak disabilitas yang menggunakan kursi roda, serta terbatasnya alat-alat terapi yang dibutuhkan untuk melatih motorik halus bagi anak autis.

Setiap tahun Dinas Pendidikan melaksanakan pelatihan untuk ratusan  guru-guru namun faktanya bahwa tidak semua  sekolah siap untuk memberikan layanan inklusi, kembali lagi pada komitmen dan kesiapan kapasitas sekolah.
Menurut Ibu Risna berdasarkan pengalamannya memimpin SD Maccini Baru, yang perlu disiapkan oleh sekolah agar bisa memberikan layanan pendidikan bagi anak disabilitas yakni harus ada guru dan tenaga pendidikan yang memiliki pemahaman memadai dalam memberikan layanan ramah anak tanpa diskriminasi dan kekerasan bagi  siapa saja termasuk anak disabilitas. Kapasitas ini bisa diperoleh  melalui pelatihan atau bimbingan teknis serta forum diskusi.  Pemahaman terkait isu disabilitas perlu diberikan kepada seluruh unsur pendidikan di lingkungan sekolah.  Kehadiran guru pembimbing khusus menjadi salah satu syarat utama keberhasilan program ini. Yang tak kalah pentingnya adalah sosialisasi kepada orang tua dan siswa reguler agar keberadaan anak disabilitas di sekolah dapat diterima oleh seluruh warga sekolah. 
Terkait fasilitas yang dibutuhkan meliputi media terapis ringan, perangkat pembelajaran termasuk program pembelajaran individual atau dikenal dengan PPI, kursi roda dan akses jalan yang dibuat landai khusus untuk anak yang mengalami hambatan fisik, diperlukan juga buku-buku paket, buku-buku pendamping khusus bagi anak disabilitas serta tersedianya ruang sumber. Ruang sumber adalah sebuah ruang khusus sebagai tempat terapi dan pembinaan yang dilengkapi dengan alat penunjang terapi. Ruang terapi ini bukan sebagai tempat belajar khusus untuk menerima pelajaran umum karena anak disabilitas dalam keseharian pembelajaran tidak terpisah dengan teman-teman peserta didik umum lainya.  

Inovasi TEKAD adalah salah satu inovasi di SD Inpres Maccini baru dengan sasaran anak disabilitas yang bertujuan memberikan pelayanan maksimal sesuai kebutuhan anak disabilitas. Ide inovasi ini sendiri tercetus dengan melihat kondisi anak disabilitas peserta didik yang pada umumnya memiliki tingkat kemandirian yang sangat rendah. Hal ini berdasarkan pada pengamatan pada anak disabilitas baik di dalam maupun di luar kelas. Ditemukan bahwa anak disabilitas memiliki tingkat kejenuhan atau rasa bosan yang cukup tinggi yang berpengaruh pada tingkat kecerdasannya, ada anak disabilitas yang belum mampu membaca, menulis dan berhitung dasar, sikap tantrum atau emosi yang tidak terkendali yang kadang terjadi sehingga sulit untuk diajak bekerja sama, berinteraksi dengan teman-teman lainnya. 
Olehnya melalui inovasi TEKAD ini dibuat sebuah pendekatan yang disebut KOMPAK. KOMPAK adalah singkatan dari K yakni Kegiatan alam dimana anak-anak disabilitas dibimbing untuk mempraktikkan tata cara bertanam dan merawat tanaman bersama peserta didik reguler. Yang kedua O adalah Open class yakni layanan khusus bagi anak disabilitas yang dilakukan di luar kelas, M adalah Mencerdaskan anak disabilitas melalui bimbingan khusus dalam melatih pembelajaran yang masih belum dikuasai seperti membaca, berhitung, menulis atau dikenal dengan calistung, P yaitu Pelibatan anak disabilitas melalui berbagai kegiatan baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. A adalah Asah kemampuan kreativitas dan keterampilan dengan memberikan bimbingan dengan cara melibatkan siswa reguler untuk mengajak anak disabilitas menemukan bakatnya. Pelibatan siswa regular sangat berdampak signifikan karena kadang anak disabilitas sulit memahami pembelajaran jika hanya berinteraksi dengan gurunya, tetapi lebih cepat merespons saat teman-teman reguler yang mengajak mereka. Terakhir adalah K yakni Kerjasama dengan berbagai pihak. Kerjasama salah satunya ditandai dengan adanya MOU dengan pihak SLB dimana disepakati adanya kegiatan kunjungan ke SLB minimal sekali sebulan untuk dilakukan pembinaan dan praktik bakat keterampilan anak seperti memasak, menjahit, prakarya karena di SLB fasilitasnya lebih lengkap dibanding sekolah reguler.

Keberhasilan inovasi TEKAD dalam memberikan layanan pendidikan inklusi tentunya melibatkan banyak pihak, diantaranya adalah Universitas Negeri Makassar sebagai mitra dalam program khusus yang membantu merancang program khusus, Organisasi Karang Taruna sebagai tim evaluasi eksternal pelaksanaan inovasi, GPK bersama guru kelas sebagai anggota tim yang merancang pelaksanaan kegiatan,  Pihak Swasta yang membantu memfasilitasi alat terapis, Yayasan SMK Telkom, dan HWDI yang senantiasa memberikan dampingan. Ada pula kelompok PKK yang melatih anak disabilitas dalam membuat karya daur ulang yang memanfaatkan sampah yang ada di sekitar sekolah. 

Peran orang tua anak disabilitas dalam proses belajar sangat besar, hingga tidak jarang mereka mendampingi anaknya dalam berbagai kegiatan seperti pembuatan karya daur ulang di sekolah. 
Terkait dukungan pemerintah setempat, menurut Ibu Risna seperti Dinas Pendidikan sangat mendukung inovasi TEKAD ini dalam fungsinya sebagai pengarah dalam pelaksanaan program dengan memfasilitasi kegiatan pelatihan terkait peningkatan pelayanan anak disabilitas.
Setiap saat upaya sosialisasi terkait keberadaan anak disabilitas di sekolah dilaksanakan terutama di awal tahun ajaran baru. Sekolah melaksanakan sosialisasi kepada orang tua dan peserta didik reguler tentang keberadaan teman-teman anak disabilitas. Selain itu informasi juga disampaikan melalui media-media sekolah seperti majalah dinding, pamflet dan group percakapan. Dalam kesempatan sosialisasi, sekolah menginformasikan bagaimana seharusnya kita berperilaku kepada anak disabilitas. “Sejauh ini saya belum pernah melihat ada anak disabilitas yang menjadi sasaran bullying di sekolah kami” ungkap ibu Risna. 


SD Maccini Baru di bawah kepemimpinan Ibu Risna membina 395 siswa dengan jumlah peserta didik disabilitas 18 orang dengan ragam disabilitas fisik dan disabilitas mental yang terdiri dari 10 orang perempuan dan 8 orang laki-laki. Sejak tahun 2016, SD Maccini sudah menamatkan 14 orang anak disabilitas yang lulusannya melanjutkan pendidikan ke sekolah negeri dan juga swasta serta pesantren. 
Inovasi TEKAD hadir untuk menjawab tantangan pendidikan anak disabilitas, pengukuran keberhasilan secara reguler dilakukan melalui kegiatan monitoring dan evaluasi. Keberhasilan pendekatan pendidikan dapat dilihat dari peningkatan kemandirian anak. Contoh sederhana seperti anak sudah mampu memakai baju sendiri, makan minum sendiri, toilet training tanpa didampingi lagi oleh guru, serta mampu berkomunikasi. Terkait intelektual juga terlihat ada peningkatan yang ditandai dengan anak yang sudah dapat membaca, menulis dan berhitung dasar. Sedangkan keterampilan atau kreativitas anak disabilitas juga mengalami peningkatan yang ditandai dengan kemampuan membuat prakarya. Perubahan yang paling penting juga adalah terkait kemampuan kerja sama atau interaksi terhadap lingkungan sekitar baik kepada guru dan temannya.
Dalam waktu dekat Ibu Risna akan membuat sebuah aplikasi yang dapat menghimpun informasi seluruh kegiatan anak disabilitas agar seluruh warga sekolah dan  lembaga lain atau masyarakat luas mudah mengakses sehingga berpeluang untuk memberi saran kritikan membangun demi penyempurnaan di masa yang akan datang.

SD Maccini Baru sangat terbuka bagi pihak mana saja yang ingin belajar atau ingin mereplikasi inovasi ini. Ruang diskusi untuk membuat rancangan inovasi hingga proses implementasi dibuka lebar oleh Ibu Risna. 
Inovasi TEKAD adalah salah satu wujud kepedulian terhadap pemenuhan hak dasar berupa layanan pendidikan yang terlembagakan dalam sistem pendidikan SD Maccini Baru. Harapannya Inovasi ini mampu menjadi contoh baik dalam penerapan sekolah inklusif sehingga cita-cita pendidikan nasional dapat terwujud dimana tidak ada anak yang tertinggal.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai inovasi ini dapat menghubungi:
Ibu Risnawati Majit,S.Pd.,M.Pd (Kepala Sekolah SD Inpres Maccini Baru)
Email: risnawatimajit@gmail.com
 

Submission Agreement

Terimakasih atas  ketertarikan Anda untuk mengirimkan artikel ke BaKTINews. Dengan menyetujui pernyataan ini, Anda memberikan izin kepada BaKTINews untuk mengedit dan mempublikasikan artikel Anda di situs web dan situs afiliasinya, dan dalam bentuk publikasi lainnya.
Redaksi BaKTINews tidak memberikan imbalan kepada penulis untuk setiap artikel yang dimuat.  Redaksi akan mempromosikan artikel Anda melalui situs kami dan saluran media sosial kami.
Dengan mengirimkan artikel Anda ke BaKTINews dan menandatangani kesepakatan ini, Anda menegaskan bahwa artikel Anda adalah asli hasil karya Anda, bahwa Anda memiliki hak cipta atas artikel ini, bahwa tidak ada orang lain yang memiliki hak untuk ini, dan bahwa konten Artikel Anda tidak mencemarkan nama baik atau melanggar hak, hak cipta, merek dagang, privasi, atau reputasi pihak ketiga mana pun.

Anda menegaskan bahwa Anda setidaknya berusia 18 tahun dan kemampuan untuk masuk ke dalam kesepakatan ini, atau bahwa Anda adalah orang tua atau wali sah dari anak di bawah umur yang menyerahkan artikel.
 
Satu file saja.
batasnya 24 MB.
Jenis yang diizinkan: txt, rtf, pdf, doc, docx, odt, ppt, pptx, odp, xls, xlsx, ods.