Bukan Lagi Baru dan Tabu: Perempuan Papua Bersolidaritas Saling Dukung Kesehatan Menstruasi (Bagian 2 Selesai)
Penulis : Narriswari
  • Sumber: Project Multatuli
    Sumber: Project Multatuli

Membicarakan dan Mendengarkan Menstruasi
Gagasan pembalut kain sebagai media untuk membuka ruang bicara menstruasi berawal dari keluhan sekelompok perempuan di Padukuhan Kelor Kidul, Gunung Kidul, Yogyakarta, terhadap harga satu paket pembalut kain yang ditawarkan Biyung.

Tahun 2018, sepaket pembalut kain dijual oleh Biyung dengan harga Rp100.000, angka yang bagi sebagian orang lebih baik dihabiskan untuk kebutuhan lainnya.

Mereka lalu bersiasat, meminta Biyung untuk mengajari cara pembuatannya. Alhasil, selain gratis mereka turut membangkitkan evaluasi personal Biyung.

Di sisi lain, perempuan kerap ditunjuk menjadi salah satu penyumbang sampah melalui penggunaan pembalut sekali pakai.

Westiani Agustin, Direktur Biyung, menjawab persoalan tersebut dengan mengajukan pembalut kain sebagai salah satu solusi menghentikan polusi sampah. Namun, apabila solusi justru tidak aksesibel, hanya dapat dijalani oleh sekelompok orang maka tak berarti apapun.

Westiani menjelaskan sesi perkenalan bertujuan sebagai pemantik pembicaraan menstruasi. Tidak sedikit wajah meragu timbul ketika mendengar metode perkenalan menggunakan tanya jawab terhadap teman sebelahnya tentang nama, judul lagu yang disukai, dan cerita pengalaman menstruasi pertama. Mereka mengakui, itu kali pertama kata ‘menstruasi’ bebas dikatakan dan didengarkan di depan umum.

Bisa jadi, menurut Westiani, kekikukan partisipan pelatihan menceritakan ulang pengalaman menstruasinya secara publik dan menggunakan pengeras suara juga ditengarai minimnya keterlibatan mereka dalam pertemuan.

“Dalam pertemuan desa atau sosialisasi pada umumnya, mereka dilibatkan sebagai peserta saja. Mereka diundang untuk hadir, tapi sampai sana hanya duduk, mendengar,” kata Westiani.

Pertemuan publik memungkinkan perempuan untuk sejenak menyisihkan beban pekerjaan rumah tangga sekaligus bersua dengan teman-teman. Undangan yang menghadirkan perempuan sebatas pengisi daftar absen tetap disambut dengan semangat, sekadar duduk melepas penat.

Format kegiatan yang kaku, misalnya mengikutsertakan perempuan sebagai partisipan pasif justru mengurungkan keberanian berlatih berbicara di depan umum.

Metode pembelajaran yang partisipatif menjadi corak tersendiri dalam pelatihan ini. Memasuki ruang pelatihan, partisipan sudah mendapatkan sekantong paket alat bahan pembalut kain, spidol, dan buklet dua lembar berisi panduan pembuatan dan perawatan pembalut kain serta ilustrasi siklus menstruasi yang digunakan untuk berlatih menghitung siklus menstruasi, termasuk penjelasan tiap fasenya.

Mata berbinar dari partisipan menyambut proses unboxing kantong berisi alat dan bahan untuk menjahit pembalut kain. Satu persatu, Westiani mengenalkan nama-nama peralatan, disongsong celetukan dari beberapa partisipan yang sudah terlebih dahulu mengenalnya. Ada benang, jarum jahit, pendedel, mata nenek, empat bahan kain, dan contoh pembalut kain ukuran panty (kecil).

“Wah.. kalau warna begitu saya mau! Cantik-cantik sekali..,” partisipan saling melempar komentar sembari menatap lekat-lekat terhadap deretan bahan kain yang digunakan, lantaran bercorak atau bermotif terang.

“Orang bisa tanya-tanya… eh, mama ada jemur kain apa itu? Bukan lagi disebut kain kotor,” celetuk partisipan lainnya.

Pelatihan berlanjut dengan belajar menghitung siklus menstruasi, yang dipertegas oleh Biyung sebagai bagian dari siklus hidup. Rode menarik kesimpulan dari partisipan pelatihan bahwa pengetahuan tentang menghitung siklus menstruasi baru pertama kali mereka dapatkan.

Siklus menstruasi merupakan periode antara hari pertama menstruasi terakhir menuju menstruasi berikutnya. Dalam satu siklus menstruasi dapat berlangsung selama 28 hari. Durasinya amat beragam, bisa kurang atau lebih dari 28 hari, tergantung individu yang mengalaminya. Selama siklus berjalan, tampak fase-fase yang menyiratkan polah tingkah seseorang.

“Ada yang pernah mengamati, anak perempuan di rumah tiba-tiba dandan cantik, ada anyam (kepang) rambut macam-macam gaya… Baru kita sebagai mama keluar kata-kata, “Ih cakadidi apa (genit)?” Padahal bisa jadi dia sedang ada di fase ovulasi karena merasa bergairah dan ingin menata diri sebaik mungkin,” kata Westiani.

Penjelasan ini memicu senyum malu dari wajah para mama. Mereka mengiyakan pernah menyaksikan anak perempuan di rumah sekonyong-konyong mempercantik diri.

Rode menyambung, “Saya juga baru tahu kalau perempuan itu punya dua otak. Semua peristiwa yang terjadi dalam kita punya diri ternyata direkam oleh rahim. Kita perempuan itu unik. (Pada situasi perempuan sedang hamil) harus hati-hati karena apa yang kita pikirkan, rasakan, dan sikap kita terhadap orang lain karena direkam oleh janin.”

Rode Wanimbo (tengah), salah satu kolaborator dalam gerakan Perempuan Bantu Perempuan Pakai Pembalut Kain di Papua, memanfaatkan jabatan strategisnya sebagai ketua Departemen Perempuan GIDI dengan membantu sesama perempuan dan anak perempuan mendapatkan akses edukasi terkait tubuh, kesehatan reproduksi dan menstruasi. (Project M/Narriswari)

Perempuan lantas menyadari kelincahan mereka mengerjakan dua atau tiga pekerjaan sekaligus dalam satu waktu merupakan bagian dari keistimewaan individu berahim karena kepemilikan sistem kerja ganda yang dikelola otak dan rahim.

Pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti pelatihan tidak berhenti pada partisipan, tetapi membantu sesama perempuan lainnya di luar lingkaran pertemuan. Para mama yang terlibat lantas menyelidiki kembali pengalaman mereka hidup dengan anak-anak perempuan.

Pembalut Kain: Usang dan Solusional
Pembalut kain bukan temuan baru. Butuh penelusuran jeli siapa penciptanya, mungkin saja sesungguhnya malah dikonkritkan oleh perempuan lalu berkembang dengan masing-masing inovasinya sesuai konteks wilayah.

Perempuan yang terlibat dalam pelatihan menunjukkan ragam reaksi terhadap pembalut kain, tapi bukan ketakjuban akan sesuatu yang mutakhir. Mereka jamak mengenalnya sebagai duk atau “kain kotor.” Istilah duk, menurut Rosa yang melacaknya melalui sang mama, dipromosikan oleh misionaris.

Rupanya duk diterima dengan hangat. Selain proses penyebarannya melalui ajaran agama, komposisi bahan pembalut kain mudah didapatkan oleh perempuan kendati lokasi tinggalnya jauh dari perkotaan.

Febe Mabel, seorang tenaga kesehatan yang kerap bertugas di kampung-kampung Pegunungan Jayawijaya, mengungkapkan perempuan kini jauh lebih mengenal pembalut sekali pakai, padahal jauh dari akses perdagangan produk-produk pabrikan. Maka dalam sehari penuh mereka bisa hanya menggunakan satu pembalut sekali pakai.

Ia mengkhawatirkan pemakaian pembalut sekali pakai justru makin memperkuat kerentanan perempuan-perempuan di kampung mengalami infeksi di bagian genital, bahkan berujung infertilitas.

Hal ini ditengarai oleh minimnya informasi dan pengetahuan terkait produk pembalut sekali pakai, meskipun bukan hanya dialami perempuan di perkampungan – bahkan juga perkotaan.

“Kenapa kok pihak produsen pembalut ini tidak pernah memberi tahu konsumennya kalau ternyata bahan-bahan pembalut yang mereka bikin berbahaya?,” gugat seorang ibu dalam pelatihan di Sentani, September tahun lalu.

Kegeramannya muncul seketika mendengar pemaparan dari tim Biyung perihal komposisi pembalut sekali pakai yang mengandung bahan pemutih dan hasil daur ulang kertas untuk menurunkan biaya produksi sepadan dengan harga penjualan.

Usai terpapar informasi utuh tentang komposisi pembalut pabrikan membangkitkan komitmen Jeremina beralih pada pembalut kain. Berulang ia mendengar pengalaman perempuan terdekatnya yang mengalami infeksi kesehatan reproduksi, seperti ruam, gatal, hingga infertilitas, akibat penggunaan pembalut pabrikan. Buatnya, memakai pembalut kain membuatnya lebih kritis dan peduli terhadap tubuh maupun lingkungan.

Selain itu, penggunaan pembalut kain membuatnya berhemat banyak untuk tidak mengikuti godaan iklan pembalut sekali pakai yang menawarkan beragam kategori, misalnya day, night, berbau sirih, bersayap atau tanpa sayap. Konon tiap bulan ia harus membeli dua jenis pembalut pabrikan.

“Saya harus beli yang malam sendiri, yang pagi sendiri. Sudah beli mahal, baru iritasi dan gatal-gatal!” kata Jeremina.

Febe, sementara itu, mengatakan sejak menstruasi pertama, ia belajar tidak menggunakan pembalut sekali pakai. Sang mama angkatnya sudah mengenalkan pembalut kain berbahan dasar kain perban yang diisi kain lalu dijahit tangan. Febe pernah tergiur menggunakan pembalut sekali pakai, tapi rasanya kurang nyaman.

Ia mengeluh hal serupa dengan Jeremina, “Saya tidak tahu pasti bahan-bahannya apa tapi rasanya tidak nyaman, bikin gatal. Kalau pakai pembalut kain itu hemat biaya, meminimalisir pengeluaran.”

Jika membandingkan dengan produk manajemen kesehatan menstruasi lainnya, pembalut kain merupakan teknologi yang usang. Namun, keputusan memilih pembalut kain adalah kuasa individu atas dirinya.

Jeremina dan Febe, sebagai perumpamaan, yang menolak merasa tidak nyaman atau infeksi akibat pemakaian pembalut sekali pakai. Selain itu, Jeremina menggunakan pembalut kain sebagai upayanya menjaga kelestarian lingkungan dari sampah pembalut sekali pakai.

Pembalut kain berkaitan erat dengan kebutuhan air bersih untuk mencucinya. Partisipan pelatihan dari Wamena dan Oksibil mengakui cukup kesulitan mendapatkan air yang tidak berwarna dari sumur.

Di Oksibil, warga menyiasatinya dengan membangun tangki-tangki air penadah hujan sehingga dapat dimanfaatkan untuk mencuci ataupun mandi. Sementara di kota Wamena, Febe membiasakan menguras bak mandi karena ia mempercayai endapan air yang terlalu lama berpotensi menjadi sarang bakteri berkembang biak.

Bantuan pembalut kain untuk perempuan dan anak perempuan pengungsi konflik politik di Papua secara seksama dipilah. Dengan berat hati, Perempuan GIDI menjangkau wilayah pengungsian dengan akses air yang cukup untuk mendukung penggunaan pembalut kain.

Akses air bersih sesungguhnya menjadi kebutuhan bersama, bukan hanya gender tertentu. Melalui kampanye menstruasi sehat menggunakan media pembalut kain, Biyung menyelipkan pesan tuntutan terkait kewajiban penyediaan sanitasi yang sewajarnya menjadi tanggung jawab komunal.

“Sanitasi bagian dari advokasi kita. Penyediaan sanitasi wajib dilakukan pemerintah sehingga mempermudah air bersih untuk pembalut kain, terutama di Tanah Papua. Kamu (pemerintah) bilang ada program-program pembangunan di Papua tapi hasilnya mana.. Karena ini berkaitan dengan tuntutan pemenuhan HKSR juga,” Westiani menandaskan.

Keluarga sebagai Agensi Seseorang Mengenal Tubuh
“Saya punya anak perempuan dua, mereka memang masih kecil-kecil tapi sekarang saya lebih siap untuk ajak mereka bicara soal masa yang akan mereka lalui ke depan,” komentar seorang ibu dari Oksibil, namanya Romauli Situmorang.

Romauli merupakan penanggung jawab untuk kelompok produksi pembalut kain pertama di Papua. Usai keterlibatannya dalam pelatihan tahun 2020, ia tekun membagikan pengetahuannya di kota asalnya dengan menggandeng kelompok perempuan sekitar rumah, gereja maupun Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).

Apabila seseorang telah mengantongi bekal pengetahuan tentang tubuhnya lebih awal, maka ia jauh lebih siap menghadapi situasi beragam mendatang.

Meri, seorang pegawai di kota Wamena diam-diam mempelajari proses menstruasi melalui kebiasaan tantenya merendam celana dalam hingga bersih dari noda darah.

“Waktu itu saya sempat tanya, ‘itu kenapa?’ lalu mama adek (sebutan untuk adik dari mama) jawab, ‘ini perempuan punya.. Nanti umur-umur berapa juga akan dapat.’ Jadi pas saya dapat, tidak kaget. Saya tahu ini yang namanya menstruasi,” kata Meri.

Membenarkan peribahasa “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya,” pun dengan tradisi pewarisan antar-perempuan untuk mengatur proses alamiah bulanan. Saya sendiri mengenal pembalut kain sebagai produk manajemen menstruasi pertama. Perjumpaan kami melalui ajaran ibu saya, yang diwariskan oleh nenek.

Ibu saya menampilkan pembalut kain buatan sendiri dari potongan kain katun putih dan dilipat layaknya lumpia, isinya handuk kecil lalu ujung atas dan bawah dibikin jalur untuk tali pinggang. Pemakaiannya mirip dengan cawat. Sementara nenek saya mendemonstrasikan pembalut kain menggunakan sisa-sisa kain jariknya yang menua, penuh motif.

Mama dari Rosa mengajarkan pada kedua anak perempuannya untuk bersiaga membawa handuk kecil tiap pergi sekolah sebagai pertolongan pertama ketika menstruasi datang tiba-tiba.

Tiap keluarga memiliki cara tersendiri untuk menyediakan ruang ramah untuk saling belajar mengandalkan dan mengeluh. Pdt. Matheus menyampaikan pengalaman personalnya dalam keluarga dengan mayoritas didominasi perempuan.

“Saya belajar mendukung dan membantu kakak perempuan justru mulai dari keluarga. Bikin kue… main mainan yang disebut mainan perempuan itu saya kuasai. Kepedulian terhadap kesetaraan sebetulnya sudah tumbuh sejak kanak-kanak,” katanya.

Sejumlah suku di Papua menubuhkan tradisi inisiasi terkelompok, yaitu perempuan dan laki-laki. Inisiasi dilakukan ketika seseorang mulai menginjak masa akil balik sehingga anggota keluarga berjenis kelamin sama menemani secara intensif, yang dapat berlangsung selama beberapa hari dan bertempat di satu rumah khusus.

Salah satunya kewita, istilah untuk menyebut rumah perempuan dalam budaya Suku Mee. Tutur Rosa, kewita menjadi ruang personal bagi perempuan – mulai dari nenek hingga perempuan termuda untuk belajar kehidupan sebagai sosok perempuan. Mereka bisa berlatih membuat noken, berkebun, memasak, mengelola kekuasaan dalam politik kesukuan, termasuk memahami pengetahuan tentang tubuh.

Prinsip rumah kewita sebagai tempat untuk belajar, mengajar, dan saling membantu menginspirasi Rosa melakukan hal serupa dalam bentuk organisasi dengan nama yang sama.

Bagaimana Laki-laki Dapat Terlibat dalam Diskusi Menstruasi Sehat
April 2022, sebuah percekcokan hangat memecah kesunyian kampung Sira di kabupaten Sorong Selatan. Pasalnya, kelompok perempuan yang terdiri dari 30 mama dan perempuan muda menolak keras kehadiran laki-laki dalam workshop edukasi menstruasi sehat dan menjahit pembalut kain.

“Eh.. Tidak! Laki-laki tidak boleh ikut di sini!,” bantah seorang mama, diikuti penolakan lainnya.

Asal muasalnya, beberapa laki-laki sempat datang menyambut rombongan Biyung dan Bentara Papua lalu membantu mempersiapkan ruangan untuk pelaksanaan workshop. Usai persiapan, sebagian dari mereka tinggal di suatu pojok ruangan, mungkin berharap dapat bergabung. Westiani lantas menanyakan kepada partisipan mengenai kemungkinan keterlibatan kelompok laki-laki dalam workshop, yang dengan cepat dibalas dengan protes oleh mama-mama.

Resistensi ini sangat beralasan. Pihak Bentara Papua menyampaikan kepada Westiani bahwa ruang pertemuan bagi perempuan di kampung Sira tidak pernah ada. Ketika kelompok perempuan mendengar adanya peluang berkegiatan dan berbicara tentang kesehatan reproduksi, kegembiraan mereka menjadi eksklusif.

“Selama ini acara kampung dan adat selalu yang diundang laki-laki. ini satu bentuk upaya mereka keluar dari kotak mereka,” kata Westiani.

Cerita tersebut mengingatkan saya pada pengalaman serupa ketika terlibat dalam pelatihan di sebuah gereja GIDI di Kota Wamena. Sembari menunggu kedatangan teman lainnya, tim Biyung bersama Perempuan GIDI berbincang dengan beberapa partisipan dan seorang pendeta laki-laki, bernama Niko Mabel.

Kehadirannya sebagai laki-laki satu-satunya sempat memicu keraguan dari partisipan untuk ikut berdiskusi. Biyung dan Perempuan GIDI mengupayakan pertemuan awal sebagai jembatan menuju sesi workshop, maka obrolan yang mengemuka terkait situasi kesehatan reproduksi perempuan di Wamena.

(Pdt.) Niko tampaknya menyadari suasana kaku dalam ruangan dipicu olehnya, dengan perlahan beliau berpamitan keluar.

Tema kesehatan reproduksi memang lekat pada gender tertentu, meskipun persoalan sistem reproduksi dapat dialami semua gender. Namun, pada konteks wilayah yang menunjukkan lemahnya pengalaman aktual perempuan untuk memiliki ruang aman berbicara, maka penyelenggaraan pelatihan seperti ini menjadi peluang yang harus direbut oleh individu bermenstruasi.

Selain itu, menciptakan ruang aman untuk berbicara ketubuhan bagi perempuan mustahil dilakukan oleh segelintir orang atau kelompok tertentu, butuh simpul yang beragam dan pengeras suara untuk mendengungkan, misalnya para pemilik wewenang. Salah satunya dari pengalaman personal ibu Romauli terhadap suaminya.

Sebagai seorang pendeta, suaminya mendayagunakan posisinya untuk mendukung kerja sang isteri dalam mengkampanyekan menstruasi sehat. Saat berperan membuka workshop menstruasi sehat dan menjahit pembalut kain yang difasilitasi mandiri oleh ibu Romauli, beliau menggarisbawahi bahwa kita tidak boleh menutup telinga mendengarkan informasi tentang tubuh maupun malu membicarakannya.

Sedari awal, gerakan kolaboratif Perempuan Bantu Perempuan Pakai Pembalut Kain di Papua terwujud berkat ketekunan dua sahabat, yang bertumbuh bersama teman lainnya. Namun, proses untuk merawatnya menciptakan jejaring kepedulian lintas denominasi gereja maupun fokus isu kelembagaan.

“Perempuan Papua harus selamat! Tapi tangan saya pendek. Saya berharap ada lebih banyak orang bersemangat meneruskan kerja-kerja ini… Kalau pemerintah konek (responsif), hal seperti ini cepat ditanggapi..,” tutup ibu Romauli.

Editor: Ronna Nirmala

Artikel ini adalah bagian dari serial #PendidikanSeksual.

Sumber: https://projectmultatuli.org/bukan-lagi-baru-dan-tabu-perempuan-papua-bersolidaritas-saling-dukung-kesehatan-menstruasi
 

Submission Agreement

Terimakasih atas  ketertarikan Anda untuk mengirimkan artikel ke BaKTINews. Dengan menyetujui pernyataan ini, Anda memberikan izin kepada BaKTINews untuk mengedit dan mempublikasikan artikel Anda di situs web dan situs afiliasinya, dan dalam bentuk publikasi lainnya.
Redaksi BaKTINews tidak memberikan imbalan kepada penulis untuk setiap artikel yang dimuat.  Redaksi akan mempromosikan artikel Anda melalui situs kami dan saluran media sosial kami.
Dengan mengirimkan artikel Anda ke BaKTINews dan menandatangani kesepakatan ini, Anda menegaskan bahwa artikel Anda adalah asli hasil karya Anda, bahwa Anda memiliki hak cipta atas artikel ini, bahwa tidak ada orang lain yang memiliki hak untuk ini, dan bahwa konten Artikel Anda tidak mencemarkan nama baik atau melanggar hak, hak cipta, merek dagang, privasi, atau reputasi pihak ketiga mana pun.

Anda menegaskan bahwa Anda setidaknya berusia 18 tahun dan kemampuan untuk masuk ke dalam kesepakatan ini, atau bahwa Anda adalah orang tua atau wali sah dari anak di bawah umur yang menyerahkan artikel.
 
Satu file saja.
batasnya 24 MB.
Jenis yang diizinkan: txt, rtf, pdf, doc, docx, odt, ppt, pptx, odp, xls, xlsx, ods.