BaKTI Melatih, BaKTI Mendampingi
Penulis : Desy Mutialim
  • Foto: Syaifullah/Yayasan BaKTI
    Foto: Syaifullah/Yayasan BaKTI

“Harus bekerja pakai hati.” Ini jawaban dari seorang tokoh agama di Agats, Asmat, ketika ditanya seorang pejabat pemerintah pusat: ‘Apa tips untuk memajukan pembangunan di Papua?’.

Bekerja pakai hati maksudnya adalah sungguh-sungguh memberikan hati untuk mendampingi masyarakat, bekerja dan berkembang bersama-sama dengan mereka. Bukan hanya datang sebentar, lalu pergi. Untuk dapat membangun masyarakat, perlu memahami cara pikir mereka, kebiasaan-kebiasaan mereka dan nilai-nilai budaya lokal yang ada. Dalam praktiknya, tidak mudah melakukan hal ini karena butuh banyak sumber daya.  Namun tetap dapat dilakukan dalam bentuk yang lebih sederhana.

Pendekatan inilah yang coba dilakukan BaKTI dalam upaya meningkatkan kapasitas anggota Sekretariat Bersama (Sekber) BANGGA Papua. BaKTI menempatkan asisten komunikasi untuk masing-masing kabupaten yang didampingi: Asmat, Lanny Jaya dan Paniai. Mereka menjadi penghubung utama dengan Sekber ketiga kabupaten dan dengan koordinator kabupaten di Sekber Provinsi.

Sejak awal, BaKTI percaya, pelatihan saja tidak akan cukup untuk meningkatkan kapasitas anggota Sekber. Karenanya, BaKTI juga melakukan pendampingan-pendampingan, yang dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah mentoring atau coaching.


Menyusun Modul Pelatihan Berdasarkan Kebutuhan

Dalam pelatihan, BaKTI mencoba meng-hadirkan isu-isu riil di lapangan agar latihan-latihan atau role play selama pelatihan, dapat benar-benar membantu peserta menghadapi situasi nyata di lapangan.

Isu-isu ini dikumpulkan dari hasil diskusi dengan Sekber kabupaten dan provinsi. Dengan demikian, menjelang setiap pelatihan, tim BaKTI melakukan survei lewat diskusi, wawancara, sekaligus pengamatan terhadap perkembangan kegiatan dan masalah-masalah komunikasi di lapangan. Selanjutnya, modul-modul pelatihan disusun secara khusus untuk membahas isu-isu yang ditemukan.

Dalam pelatihan, BaKTI selalu memberikan kesempatan kepada anggota sekber untuk melatih dirinya. Teori-teori disampaikan di awal dan hanya berkisar 25% dari seluruh pelaksanaan pelatihan. Dalam menyelenggara-kan pelatihan-pelatihan, BaKTI amat menekan-kan latihan, latihan dan latihan.  Dalam beberapa kesempatan, latihan ini dibuat dalam bentuk role play. Di akhir setiap latihan dan role play, BaKTI akan mengevaluasi dan memberikan masukan-masukan untuk perbaikan. Masukan-masukan ini tentunya merujuk kembali kepada teori-teori yang sudah disampaikan sebelumnya.

Kegiatan Pelatihan Komunikasi bagi anggota Sekber BANGGA Papua di Paniai dan Lanny Jaya.  <br> Foto: Syaifullah/Yayasan BaKTI
Kegiatan Pelatihan Komunikasi bagi anggota Sekber BANGGA Papua di Paniai dan Lanny Jaya.
Foto: Syaifullah/Yayasan BaKTI


Mendampingi Sekber Kabupaten

Meski demikian, BaKTI tetap memperhitung-kan, ketika anggota Sekber kembali ke tempat tugasnya masing-masing, mereka mungkin menemukan tantangan-tantangan baru. Karena itulah, pelatihan bukan kegiatan akhir. Sebagai tindak lanjut, tim BaKTI datang ke kabupaten secara berkala. Bersama Sekber Kabupaten, tim BaKTI mendiskusikan tantangan-tantangan komunikasi yang muncul dan potensi solusinya. Tentu, setiap kabupaten memiliki tantangan khusus yang berbeda dengan kabupaten lainnya. Karenanya, solusi yang didiskusikan pun berbeda.

Di awal program, hasil pendampingan BaKTI kepada Sekber Kabupaten Lanny Jaya membuah-kan rekomendasi agar Sekber melibatkan pihak-pihak lain untuk melakukan sosialisasi program. Pihak-pihak tersebut adalah tokoh masyarakat, kepala suku, tokoh perempuan, orang muda, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan tokoh agama. Rekomendasi ini muncul karena anggota Sekber pada saat itu hanya terdiri dari staf Bappeda kabupaten. Mengingat luasnya wilayah Kabupaten Lanny Jaya (116 kampung dalam 10 distrik), maka sekber pasti membutuhkan sumber daya lain untuk melakukan sosialisasi program dan edukasi tentang pemanfaatan dana BANGGA Papua. Pelibatan pihak-pihak yang berkepenting-an ini penting untuk memastikan bahwa program BANGGA Papua dapat dilaksanakan dengan baik.


Stakeholder Engagement

Sekber juga perlu menyusun strategi tentang bagaimana memberdayakan pihak-pihak yang selama ini telah mendukung pelaksanaan program, untuk membantu merangkul semua stakeholder. Mungkin saja pihak-pihak ini ingin membantu tetapi belum tahu caranya. Atau mungkin mereka belum diberikan kesempatan. Sekber perlu mendiskusikan dengan mereka, misalnya, bagaimana membantu sosialisasi dan edukasi sesuai dengan peran mereka masing-masing.

BaKTI bekerja bersama Sekber kabupaten menyusun rencana kerja untuk menjawab tantangan-tantangan ini. Rencana kerja disertai dengan perkiraan waktu pelaksanaan sehingga Sekber kabupaten dapat mengatur waktu dan sumber daya mereka.

Menjelang pencairan dana, BaKTI menemu-kan, setiap kabupaten membutuhkan bantuan menyusun panduan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan teknis yang mungkin diajukan penerima manfaat. Dengan bantuan BaKTI, Sekber kabupaten berusaha mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul saat pengumuman nama-nama penerima manfaat dan saat pencairan dana. Jawaban-jawaban yang bijak dan masuk akan didiskusikan bersama.

Kegiatan Pelatihan Komunikasi bagi anggota Sekber BANGGA Papua di Asmat.  Foto : Rahman Ramlan/Yayasan BaKTI
Kegiatan Pelatihan Komunikasi bagi anggota Sekber BANGGA Papua di Asmat
Foto: Rahman Ramlan/Yayasan BaKTI


Untuk kepentingan ini juga, di awal Oktober, BaKTI memfasilitasi pelatihan komunikasi tingkat lanjut untuk Sekber kabupaten. Fokus pelatihan ini adalah mempersiapkan Sekber Kabupaten menghadapi tantangan-tantangan yang mungkin muncul menjelang pencairan dana, yang dijadwalkan bulan Desember 2018. Salah satu materi pelatihan termasuk keteram-pilan teknis tentang bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan dan merespon keluhan-keluhan dari masyarakat saat pengumuman nama-nama penerima manfaat dan pencairan dana.

Meningkatkan kapasitas memang bisa mudah, bisa juga kompleks. Kita dapat melakukanya sebatas pelatihan, tetapi juga bisa jauh lebih dari itu. Pendampingan memang lebih kompleks karena membutuhkan perhatian khusus, menyediakan asistensi beragam yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kabupaten (tailor-made) dan menuntut sumber daya yang kuat. Namun, BaKTI telah ber-komitmen untuk memberikan yang terbaik. BaKTI tidak akan meninggalkan Sekber Kabupaten bergelut sendirian dengan tantangan- tantangan yang ada di tiap kabupaten. Karena, bagi BaKTI, peningkatan kapasitas tidak berhenti di pelatihan. Bagi BaKTI, kerja di Papua memang harus dengan hati.

Submission Agreement

Terimakasih atas  ketertarikan Anda untuk mengirimkan artikel ke BaKTINews. Dengan menyetujui pernyataan ini, Anda memberikan izin kepada BaKTINews untuk mengedit dan mempublikasikan artikel Anda di situs web dan situs afiliasinya, dan dalam bentuk publikasi lainnya.
Redaksi BaKTINews tidak memberikan imbalan kepada penulis untuk setiap artikel yang dimuat.  Redaksi akan mempromosikan artikel Anda melalui situs kami dan saluran media sosial kami.
Dengan mengirimkan artikel Anda ke BaKTINews dan menandatangani kesepakatan ini, Anda menegaskan bahwa artikel Anda adalah asli hasil karya Anda, bahwa Anda memiliki hak cipta atas artikel ini, bahwa tidak ada orang lain yang memiliki hak untuk ini, dan bahwa konten Artikel Anda tidak mencemarkan nama baik atau melanggar hak, hak cipta, merek dagang, privasi, atau reputasi pihak ketiga mana pun.

Anda menegaskan bahwa Anda setidaknya berusia 18 tahun dan kemampuan untuk masuk ke dalam kesepakatan ini, atau bahwa Anda adalah orang tua atau wali sah dari anak di bawah umur yang menyerahkan artikel.
 
Satu file saja.
batasnya 32 MB.
Jenis yang diizinkan: txt, rtf, pdf, doc, docx, odt, ppt, pptx, odp, xls, xlsx, ods.